Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Gangguan Total Layanan Air di Sibolangit Akibat Longsor, Pemulihan Masih Berlanjut

WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Kepala Divisi Pengolahan Air Minum Perumda Tirtanadi Sumatera Utara, Relli Sinulingga. (Foto: Elvirida Lady Angel Purba/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Kepala Divisi Pengolahan Air Minum Perumda Tirtanadi Sumatera Utara, Relli Sinulingga, mengungkapkan bahwa layanan air di Sibolangit saat ini masih terganggu total akibat bencana alam tanah longsor yang terjadi beberapa waktu lalu.

Meski demikian, upaya pemulihan terus dilakukan, dan uji coba untuk salah satu jalur distribusi air telah dilakukan sejak pagi dengan kapasitas mencapai 70 liter per detik.

Namun, Relli menekankan bahwa kapasitas tersebut masih jauh dari kapasitas normal yang seharusnya mencapai lebih dari 500 liter per detik, yang berarti hanya sekitar 20 persen dari kapasitas normal yang dapat disalurkan saat ini.

Baca Juga : Angin Segar untuk Warga Medan: Tarif Air Tirtanadi Resmi Turun di Tengah Tekanan Inflasi ​

“Kami sudah melakukan uji coba sejak pagi, namun jumlah aliran air yang terdistribusi masih sangat terbatas, sekitar 70 liter per detik. Ini jelas belum mencapai kapasitas normal yang seharusnya,” jelas Relli kepada Nusantaraterkini.co, Selasa (3/12/24).

Untuk memenuhi kebutuhan air pelanggan yang terdampak, Tirtanadi berkolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara untuk mengirimkan air menggunakan tangki ke daerah-daerah yang terdampak, seperti Johor, Jamin Ginting, sekitar Rumah Sakit Adam Malik, dan Perumahan Vienna serta Zeqita. Meskipun demikian, layanan air di beberapa daerah tersebut masih belum maksimal.

“Biasanya, pelanggan bisa langsung membuka keran dan mendapatkan air, tetapi karena adanya bencana alam, distribusi air kami terhambat. Kami terus berusaha agar distribusi bisa normal kembali,” tambah Relli.

Baca Juga : Johan Merdeka Minta Poldasu-KPK Usut Proyek Uprating Sunggal milik Tirtanadi Sumut senilai Rp 61,8 Miliar

Relli juga menyampaikan bahwa tantangan besar dalam pemulihan adalah kondisi tanah longsor yang masih labil, yang membuat evakuasi alat dan petugas di lokasi sangat sulit dilakukan.

“Petugas kami bekerja siang dan malam di daerah longsor, namun situasi sangat sulit. Berdasarkan peringatan dari BMKG, curah hujan diperkirakan masih tinggi hingga 4 Desember. Kami berharap longsor tidak terjadi lagi agar pekerjaan pemulihan bisa lebih cepat,” harap Relli.

Meskipun upaya pemulihan sedang berlangsung, waktu pemulihan layanan air diperkirakan masih memerlukan waktu. Sebelumnya, Direktur Utama Tirtanadi menyampaikan bahwa pemulihan dapat memakan waktu dua hingga tiga minggu. Namun, pihaknya terus berupaya agar proses pemulihan bisa lebih cepat.

“Ini adalah bencana luar biasa yang belum pernah kami alami sebelumnya. Kami berharap jika hujan tidak turun terus menerus selama tiga hari ke depan, pekerjaan kami dapat berjalan lancar, dan pemulihan layanan bisa lebih cepat,” tutup Relli.

(cw9/nusantaraterkini.co)