Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Hanya Tersisa Puing, Korban Kebakaran 1 Ilir Harapkan Bantuan Pemerintah

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Adetia Purwaningsih
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Seorang warga yang berprofesi sebagai nelayan, Enzian Henry saat diwawancarai di lokasi kebakaran tepatnya di Jalan Sultan Agung, RT 13, Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang, Senin (11/5/2026). (Foto: Tia/nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, PALEMBANG — Kebakaran hebat yang melanda kawasan 1 Ilir pada, Minggu (10/5/2026) sekitar pukul 19.30 WIB kini hanya menyisakan puing-puing bangunan, setelah delapan rumah dan satu gudang hangus dilalap api dalam waktu singkat.

Salah satu warga yang rumah orang tuanya ludes terbakar, Enzian Henry, mengungkapkan jika seluruh bangunan kayu tersebut habis tidak bersisa hanya dalam waktu satu setengah jam.

Baca Juga : Kebakaran Hebat di 1 Ilir Palembang: 9 Rumah Panggung Hangus Dilalap Api

Hal ini menyisakan duka mendalam bagi para sejumlah keluarga yang kini kehilangan tempat tinggalnya yang rata-rata memang merupakan rumah panggung.

Baca Juga : Diduga Korsleting Listrik, 3 Rumah di Sukarami Palembang Hangus Terbakar

“Rumah ini terbakar dan rumah ini juga masih dalam keadaan terbakar, cuma sudah habis. Satu jam setengah lah kurang lebih semuanya ini habis,” ujarnya saat di lokasi kebakaran, Senin (11/5/2026).

Enzian menceritakan, saat kejadian dirinya sedang berada di luar rumah untuk beribadah dan baru mengetahui musibah tersebut setelah dihubungi anaknya yang bekerja di luar negeri.

Baca Juga : Polres Sergai Bantu Warga Korban Musibah Kebakaran

“Ditelepon anak saya yang bekerja di Malaysia. Katanya rumah nenek itu terbakar. Apa iya ? Saya bilang, kamu yang di Malaysia tahu, aku yang di sini tidak tahu. Setelah diberi tahu anak lain, ya memang benar ada lihat di hp,” ungkapnya.

Setibanya di lokasi, ia hanya bisa menatap sisa-sisa bangunan yang sudah menjadi arang, padahal rumah tersebut dihuni oleh ibu lansia berusia 85 tahun dan keluarganya yang sempat berhasil diselamatkan sebelum api membesar.

“Ini kontrakan, tapi ada orang baik disuruh tinggal saja. Jadi dibilang ini ngontrak, jangan dibilang ini numpang saja. Karena banyak keluarga, jadi insya Allah kita ini dianggap ngontrak, jadi tidak bermasalah. Semalam ibu saya yang sudah lanjut usia 85 tahun, sama ada yang lumpuh,” katanya.

Enzian menjelaskan, kondisi kabel listrik yang memiliki daya tahan rendah namun dipasangi lampu berukuran besar diduga menjadi pemicu kebakaran pada bangunan non-permanen tersebut.

Selain faktor instalasi listrik, api cepat membesar karena adanya aktivitas usaha katering di bagian bawah rumah yang menggunakan tabung gas dan kompor berukuran besar.

“Maklum lah, bukannya rumah mewah. Ada yang sambungan kabelnya, mungkin daya tahan kabel ini rendah tapi pasang lampunya besar. Di bawahnya ini ada yang masak nasi, ada tabung gas. Ini kan katering, masak untuk orang. Kompor besar itu yang mata seribu, jadi nasinya banyak bisa 20 kilo. Ya begitulah, listrik yang terbakar dan ada gas di bawahnya,” jelasnya.

Kini, para korban yang terdampak sangat mengharapkan uluran tangan dari pemerintah daerah untuk membantu memulihkan kondisi mereka pascamusibah. Mengingat sebagian besar bangunan yang terbakar adalah rumah panggung berbahan kayu, tidak banyak harta benda yang bisa diselamatkan dari amukan si jago merah yang diduga dipicu oleh korsleting listrik tersebut.

“Ya, karena ini dadakan, mohonlah bantuan kepada pemerintah. Karena semua ini terdampak dalam hitungan jam, kami ini tadinya ada rumah, sekarang tidak punya rumah. Itulah mohon bantuan kepada pemerintah, intinya minta dibantu,” ucap pria yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan tersebut.

(Tia/Nusantaraterkini.co)