Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Harga Gabah Anjlok, Pemilik Kilang di Sidikalang Akui Bisnis Kian Terhimpit

WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi. Petani Padi./Ist

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Harga gabah di Sumatera Utara terus menurun, memberikan dampak luas bagi sektor pertanian dan industri penggilingan. Penurunan harga gabah kering panen (GKP) dan gabah kering giling (GKG) membuat para petani dan pengusaha kilang sama-sama merasakan dampaknya. 

Pemilik kilang di Sidikalang, yang enggan disebutkan namanya, menyatakan bahwa penurunan harga ini sangat memengaruhi pendapatan mereka. 

"Kami juga tertekan dengan penurunan harga gabah ini. Selain merugikan petani, kami juga merasakan penurunan margin keuntungan karena biaya operasional penggilingan tetap tinggi," ungkapnya dalam wawancara pada Jumat (18/10/2024).

Baca Juga : Pemulihan Energi di Tapteng: Antrean BBM Berkurang Drastis, Gas Rumah Tangga Tersedia

Harga GKP di tingkat penggilingan saat ini berada di angka Rp6.225 per kilogram, sementara GKG hanya dijual dengan harga Rp6.789 per kilogram. Meskipun harga di penggilingan masih sedikit lebih tinggi daripada di tingkat petani, pemilik kilang mengaku margin keuntungan mereka semakin menipis.

“Tidak hanya petani yang menderita, kami di kilang juga harus menyesuaikan operasional, karena harga jual rendah tidak sebanding dengan biaya produksi yang terus naik, termasuk listrik dan bahan bakar," tambahnya.

Penurunan harga gabah ini, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara, mencapai 9,23 persen secara bulanan untuk GKP dan 8,54 persen untuk GKG. Penurunan ini terutama dipicu oleh kelebihan pasokan gabah, yang tidak diimbangi dengan permintaan pasar yang memadai.

Baca Juga : Dilanda Hujan Deras, Jalan Penghubung Sidikalang-Silalahi Tertimbun Longsor dan Banjir

Pemilik kilang juga mengkhawatirkan efek jangka panjang dari kondisi ini, karena dapat membuat petani enggan menanam padi di musim mendatang. 

"Jika petani tidak lagi tertarik menanam padi, kami juga akan kehilangan bahan baku, dan itu akan lebih berbahaya bagi kelangsungan bisnis kami."

Sementara itu, Asim Saputra, Kepala BPS Sumut, menjelaskan bahwa meskipun ada sedikit peningkatan pada Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 0,97 persen, hal itu belum cukup untuk mengimbangi kerugian dari penurunan harga gabah.

"Walaupun harga gabah turun, kenaikan NTP ini menunjukkan bahwa daya beli petani sedikit terangkat," tambah Asim.

Kondisi ini memunculkan desakan dari berbagai pihak agar pemerintah turun tangan dengan kebijakan yang lebih berpihak kepada petani dan industri pendukungnya, seperti kilang, agar sektor pertanian padi di Sumatera Utara dapat bertahan di tengah tekanan ekonomi saat ini.

(cw9/nusantaraterkini.co)