Nusantaraterkini.co, MEDAN - Pengamat Ekonomi, Benjamin Gunawan, mengatakan jika kenaikan harga jagung pada Kamis (13/11/2025), berpotensi menggerek harga komoditas lain seperti daging ayam dan telur. Selain itu, juga dinilai berpotensi mengganggu keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Jika harga pakan terus naik, biaya produksi ayam dan telur otomatis meningkat. Padahal dua komoditas ini menjadi bahan utama dalam program MBG,” kata Benjamin saat dihubungi.
Baca Juga : Harga Jagung di Tingkat Petani Masih Rendah, Legislator Nilai Inpres 10/2025 Angin Segar
Kenaikan itu, lanjut Benjamin, dipicu karena turunnya produktivitas panen di daerah sentra, seperti Kabupaten Karo, akibat cuaca dan keterlambatan distribusi.
Saat ini, perlu diketahui harga jagung pipil di sejumlah sentra perdagangan di Sumatera Utara kini menyentuh Rp6.900 per kilogram, naik dari kisaran Rp6.350–Rp6.400 pada pekan sebelumnya.
Menurut Benjamin, pakan menyumbang lebih dari 60 persen biaya produksi peternakan unggas. Lonjakan harga jagung akan membuat harga daging ayam cenderung stagnan di level tinggi, sementara harga telur mulai menembus Rp2.200 per butir.
“Kondisi ini membuat pelaksana MBG di daerah akan kesulitan menjaga standar gizi dengan anggaran yang sudah ditetapkan. Kalau bahan bakunya naik, menunya mau tidak mau harus disesuaikan,” ujarnya.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang tengah digulirkan pemerintah di sejumlah daerah, mengandalkan pasokan bahan pangan lokal seperti daging ayam, telur, dan sayur-mayur.
Baca Juga : Harga Jagung dan Gabah Resmi Naik, Legislator: Keputusan Historis dan Berpihak kepada Petani
Namun dengan biaya produksi peternakan yang melonjak, kata Benjamin, harga jual dari pemasok juga ikut terkerek.
Benjamin menilai pemerintah perlu segera menstabilkan harga bahan pakan melalui intervensi pasokan jagung atau subsidi transportasi dari daerah sentra.
“Kalau tidak dikendalikan, program MBG bisa kehilangan efektivitas karena biaya operasional melonjak,” ujarnya.
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
