Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada awal perdagangan Senin (14/4/2025) harga minyak bergerak mendatar di tengah kekhawatiran bahwa perang dagang yang memanas antara Amerika Serikat (AS) dan China dapat melemahkan pertumbuhan ekonomi global dan menekan permintaan bahan bakar.
Berdasarkan data yang dilansir dari Reuters, harga minyak Brent naik tipis 4 sen atau 0,06% ke level US$ 64,80 per barel pada pukul 00.09 GMT.
Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga menguat 3 sen atau 0,05% menjadi US$ 61,53 per barel.
Baca Juga : Krisis Energi Global, DPR Soroti Keberhasilan Pemerintah Tahan Harga BBM
Pada Jumat lalu (11/4), Beijing menaikkan tarif impor terhadap produk AS hingga 125% sebagai respons terhadap keputusan Presiden AS Donald Trump yang meningkatkan tarif pada barang-barang China.
Langkah ini semakin memanaskan perang dagang yang berisiko mengganggu rantai pasok global.
Meskipun pada Sabtu (12/4) Trump mengumumkan pengecualian tarif terhadap smartphone, komputer, dan beberapa perangkat elektronik lainnya dari China, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick menegaskan bahwa sejumlah produk teknologi penting seperti semikonduktor akan dikenai tarif baru dalam dua bulan ke depan.
Baca Juga : Selat Hormuz Dibuka Kembali, Harga Minyak Mentah Dunia Langsung Anjlok 10 Persen
Perang tarif ini memicu kekhawatiran bahwa ekspor China yang tidak terserap pasar akan menekan harga domestik lebih lanjut.
Analis Moody’s Analytics mencatat bahwa data inflasi terbaru dari China menunjukkan lemahnya daya tahan ekonomi negara itu menghadapi konflik perdagangan.
"Indeks harga konsumen (CPI) China turun dua bulan berturut-turut secara tahunan, sementara harga produsen mencatat penurunan selama 30 bulan berturut-turut," tulis Moody’s dalam catatan mingguan yang merujuk pada data 10 April lalu.
Sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi penurunan permintaan, perusahaan energi di AS memangkas jumlah rig minyak dan gas alam terbanyak sejak Juni 2023 pada pekan lalu, menurut data Baker Hughes.
Ini menjadi penurunan jumlah rig untuk tiga pekan berturut-turut.
Namun, ada faktor yang berpotensi menahan penurunan harga minyak.
Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan bahwa Washington dapat menghentikan ekspor minyak Iran sebagai bagian dari strategi tekanan terhadap program nuklir Teheran.
Pada Sabtu (12/4), AS dan Iran menggelar pembicaraan yang disebut "positif dan konstruktif" di Oman, dan berencana melanjutkan dialog pada pekan depan untuk meredakan ketegangan terkait isu nuklir Iran.
(wiwin/nusantaraterkini.co)
