Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Harga Minyak Mentah Acuan Internasional Turun 2,08% Dalam Sepekan Didorong Pasar Mempertimbangkan Permintaan China

Editor :  Team
Reporter :  wiwin
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
harga minyak mentah Brent ditutup naik 6 sen atau 0,08% pada US$ 72,94 per barel. Dalam sepekan, harga minyak mentah acuan internasional ini turun 2,08%.

Nusantaraterkini.co,  New York - Pada perdagangan Jumat (20/12/2024) harga minyak mentah Brent ditutup naik 6 sen atau 0,08% pada US$ 72,94 per barel. Dalam sepekan, harga minyak mentah acuan internasional ini turun 2,08%.

BACA: Harga Minyak Mentah Anjlok Dipicu Kekhawatiran Tentang Pertumbuhan Permintaan di Tahun 2025

Harga minyak mentah stabil pada hari Jumat karena pasar mempertimbangkan permintaan China dan ekspektasi penurunan suku bunga setelah data menunjukkan penurunan inflasi Amerika Serikat (AS). Tetapi dalam sepekan, harga minyak terpangkas sekitar 2%.

Baca Juga : Krisis Energi Global, DPR Soroti Keberhasilan Pemerintah Tahan Harga BBM

Harga minyak mentah West Texas Intermediate AS naik 8 sen atau 0,12% menjadi US$ 69,46 per barel di perdagangan Jumat. Dalam sepekan, harga minyak WTI turun 1,92%.

BACA: Harga Minyak Mentah Naik Tipis Menjelang Potensi Penurunan Suku Bunga oleh Federal Reserve AS

Dolar AS turun dari level tertinggi dalam dua tahun, tetapi menuju kenaikan minggu ketiga berturut-turut. Federal Reserve memangkas suku bunga tetapi juga mengurangi prospek penurunan suku bunga tahun depan menjadi hanya dua kali.

Baca Juga : Selat Hormuz Dibuka Kembali, Harga Minyak Mentah Dunia Langsung Anjlok 10 Persen

Dolar yang lebih kuat membuat minyak lebih mahal bagi pemegang mata uang lain. Sementara suku bunga yang tetap tinggi dapat menahan permintaan minyak.

BACA: Harga Minyak Mentah Turun dari Level Tertinggi Tertekan Data Pengeluaran Konsumen China

Inflasi AS melambat pada bulan November, mendorong indeks utama Wall Street lebih tinggi dalam perdagangan yang bergejolak.

Baca Juga : Dalam Sepekan, Minyak Mentah Brent Mencatat Kenaikan 2,9% Sedangkan WTI Naik 1,4%

"Ada kekhawatiran di sekitar pasar tentang prospek permintaan, terutama yang berkaitan dengan China, dan kemudian jika kita akan kehilangan dukungan moneter dari Fed, itu seperti pukulan ganda," tambah kata John Kilduff, mitra di Again Capital di New York seperti dikutip Reuters.

BACA: Harga Minyak Mentah Turun Tipis Menjelang Akhir Pekan Bersandar di Level US$ 70,02 Per Barel

Perusahaan penyulingan milik negara China, Sinopec, mengatakan dalam prospek energi tahunannya pada hari Kamis bahwa impor minyak mentah China dapat mencapai puncaknya paling cepat pada tahun 2025. Konsumsi minyak China akan mencapai puncaknya pada tahun 2027, karena permintaan untuk solar dan bensin melemah.

Baca Juga : Harga Minyak Mentah Stabil Setelah Sebelumnya Mencapai Level Tertinggi Dalam Beberapa Bulan

Sementara OPEC+ membutuhkan disiplin pasokan untuk menaikkan harga dan menenangkan kegelisahan pasar atas revisi berkelanjutan dari prospek permintaannya, menurut Emril Jamil, spesialis penelitian senior di LSEG.

OPEC+ baru-baru ini memangkas perkiraan pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2024 selama lima bulan berturut-turut.

JPMorgan melihat pasar minyak bergerak dari keseimbangan pada tahun 2024 menjadi surplus 1,2 juta barel per hari pada tahun 2025. JPMorgan memperkirakan pasokan non-OPEC+ meningkat sebesar 1,8 juta barel per hari pada tahun 2025 dan produksi OPEC tetap pada level saat ini.

Baca Juga : Harga Minyak Mentah Naik Tipis Menjelang Potensi Penurunan Suku Bunga oleh Federal Reserve AS

Dalam sebuah langkah yang dapat memangkas pasokan, negara-negara G7 sedang mempertimbangkan cara untuk memperketat batasan harga minyak Rusia.

Sejumlah strategi G7 misalnya larangan langsung atau dengan menurunkan ambang batas harga, menurut laporan Bloomberg pada hari Kamis.

Rusia telah menghindari batasan US$ 60 per barel yang diberlakukan pada tahun 2022 setelah invasi Ukraina melalui penggunaan "armada bayangan" kapal. Strategi ini telah menjadi sasaran sanksi lebih lanjut oleh UE dan Inggris dalam beberapa hari terakhir.

Fund manager menaikkan posisi beli atau net long minyak mentah berjangka dan opsi AS mereka dalam minggu hingga 17 Desember, menurut Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS (CFTC) pada hari Jumat.