Nusantaraterkini.co, New York - Pada perdagangan Kamis (6/3/2025) pagi ini harga minyak mentah naik berusaha rebound di pasar spot.
Di mana harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman April 2025 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 66,46 per barel, naik 0,23% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 66,31 per barel.
Harga minyak mentah naik hari ini, setelah turun kemarin karena perang dagang menghantam prospek ekonomi global dan permintaan ekonomi.
Baca Juga : Krisis Energi Global, DPR Soroti Keberhasilan Pemerintah Tahan Harga BBM
Berdasarkan data yang dilansir dari Bloomberg, dari sisi pasokan, negara-negara OPEC+ terus bertahan dengan rencana kenaikan produksi yang telah dijadwalkan, dan stok domestik AS yang membengkak pekan lalu menambah ekspektasi surplus.
Penurunan prospek permintaan minyak juga membuat konsultan industri Enverus menurunan target harga minyak global menjadi US$ 70 per barel tahun ini, dari US$80 per barel yang ditetapkan sebelumnya.
Morgan Stanley juga memangkas proyeksi harga minyak menjadi US$ 70 per barel untuk kuartal kedua tahun ini.
Baca Juga : Selat Hormuz Dibuka Kembali, Harga Minyak Mentah Dunia Langsung Anjlok 10 Persen
Sementara, Harga minyak terus turun selama tiga sesi berturut-turut pada Rabu (5/3). Dipicu oleh rencana OPEC+ untuk meningkatkan produksi pada April serta kekhawatiran bahwa tarif baru Amerika Serikat terhadap Kanada, Meksiko, dan China akan memperlambat pertumbuhan ekonomi serta menekan permintaan bahan bakar.
Melansir Reuters, minyak mentah Brent turun 0,3% menjadi US$70,80 per barel. Sementara minyak WTI turun 0,9% menjadi US$67,68 per barel.
Penurunan ini terjadi setelah kontrak minyak mendekati level terendah dalam beberapa bulan pada sesi sebelumnya.
OPEC+ memutuskan untuk meningkatkan produksi minyak untuk pertama kalinya sejak 2022, dengan tambahan 138.000 barel per hari mulai April.
Langkah ini merupakan awal dari rencana peningkatan bertahap untuk mengurangi pemangkasan produksi sebesar 6 juta barel per hari yang diterapkan sebelumnya
Di sisi lain, kebijakan tarif AS yang diberlakukan Presiden Donald Trump menambah tekanan pada pasar minyak. Tarif 25% untuk semua impor dari Meksiko, 10% untuk energi dari Kanada, dan kenaikan tarif barang China hingga 20% mulai berlaku pada Selasa (4/3).
Kebijakan ini berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi global dan menekan permintaan minyak.
Selain itu, pemerintahan Trump mengumumkan penghentian izin operasi perusahaan minyak AS, Chevron, di Venezuela.
Langkah ini berpotensi mengurangi pasokan sebesar 200.000 barel per hari, yang bisa membuat kilang AS mencari sumber minyak mentah berat alternatif dari negara lain seperti Kanada dan Meksiko—yang kini terkena tarif baru.
Sementara itu, stok minyak mentah AS turun 1,46 juta barel dalam pekan yang berakhir 28 Februari, menurut American Petroleum Institute. Investor kini menantikan data resmi pemerintah terkait persediaan minyak AS yang akan dirilispada Rabu.
