Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan hari ini, Harga minyak mentah dunia menguat sekitar 1,5% ke posisi tertinggi dalam dua pekan terakhir setelah Amerika Serikat (AS) dan China sepakat memangkas tarif impor secara sementara, memicu optimisme bahwa perang dagang antar dua ekonomi terbesar dunia akan segera berakhir.
BACA: Harga Emas Antam Ambruk Rp 21.000 Dibanderol Rp1.884.000 Per Gram di Perdagangan Selasa (13/5/2025)
Melansir Reuters, minyak mentah Brent naik US$1,05 atau 1,6% menjadi US$64,96 per barel. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup menguat 93 sen atau 1,5% ke US$61,95 per barel. Kedua acuan ini mencetak level penutupan tertinggi sejak 28 April.
Baca Juga : Krisis Energi Global, DPR Soroti Keberhasilan Pemerintah Tahan Harga BBM
Kesepakatan dagang sementara antara AS dan China juga mengangkat bursa saham Wall Street, nilai tukar dolar AS, serta memperbaiki sentimen pasar terhadap prospek permintaan minyak global.
BACA: Harga Minyak Mentah Turun 0,37% Bersandar di Level US$ 59,02 Per Barel Dipicu Ancaman Baru Sanksi AS
“Ini merupakan langkah de-eskalasi yang lebih besar dari perkiraan dan mengindikasikan prospek yang lebih baik, meskipun proses negosiasi masih akan menantang,” tulis analis ING dalam catatan risetnya.
Baca Juga : Selat Hormuz Dibuka Kembali, Harga Minyak Mentah Dunia Langsung Anjlok 10 Persen
Meski begitu, pernyataan Gubernur The Fed Adriana Kugler bahwa kesepakatan dagang bisa mengurangi urgensi pemangkasan suku bunga turut menekan harga minyak di awal sesi.
Suku bunga yang rendah biasanya mendukung permintaan minyak karena mendorong aktivitas ekonomi.
Pada April lalu, harga minyak sempat jatuh ke posisi terendah dalam empat tahun karena kekhawatiran bahwa perang dagang AS-China akan melemahkan pertumbuhan ekonomi dan permintaan energi global. Sentimen juga ditekan keputusan OPEC untuk menaikkan produksi lebih tinggi dari ekspektasi.
Namun, Arab Saudi – produsen utama OPEC – melalui Saudi Aramco menegaskan permintaan minyak tetap kuat tahun ini dan melihat potensi kenaikan lebih lanjut jika ketegangan dagang mereda.
Di Irak, ekspor minyak mentah diperkirakan turun ke 3,2 juta barel per hari (bph) pada Mei dan Juni, atau lebih rendah dibanding bulan-bulan sebelumnya. Hal ini turut menopang harga minyak.
Faktor pendukung lain datang dari Norwegia, di mana perusahaan energi Equinor menghentikan sementara produksi di ladang minyak Johan Castberg di Laut Barents karena perbaikan teknis.
Ekspor minyak jenis CPC Blend dari Laut Hitam melalui jaringan Caspian Pipeline Consortium juga diperkirakan turun menjadi 1,5 juta bph pada Mei, dari 1,6 juta bph pada April.
Sementara di Meksiko, unit perdagangan Pemex menyatakan ekspor minyak mentah kemungkinan berkurang tahun ini karena prioritas pasokan ke kilang domestik, termasuk kilang baru Olmeca.
Sementara itu, perundingan antara AS dan Iran terkait program nuklir Teheran dapat menekan harga jika berujung pada pelonggaran sanksi atas ekspor minyak Iran – produsen minyak nomor tiga OPEC.
Di sisi lain, peluang kesepakatan damai Rusia-Ukraina yang dimediasi AS bisa meningkatkan pasokan minyak global dari Rusia.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menyatakan siap bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di Turki setelah Presiden AS Donald Trump mendesaknya menerima proposal pembicaraan langsung.
Trump bahkan membuka kemungkinan untuk bergabung dalam perundingan tersebut. Rusia merupakan produsen minyak terbesar kedua di dunia pada 2024 menurut data EIA.
Ketegangan juga muncul di Asia Selatan, setelah Perdana Menteri India Narendra Modi memperingatkan Pakistan bahwa New Delhi siap menyerang "sarang teroris" di seberang perbatasan jika terjadi serangan baru, meski ada ancaman nuklir dari Islamabad.
India merupakan konsumen minyak terbesar ketiga di dunia.
(wiwin/nusantaraterkini.co)
