Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Harga Minyak Mentah Melemah di Tengah Penguatan Dolar Amerika Serikat

Editor :  Team
Reporter :  wiwin
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Harga minyak mentah melemah di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS), kekhawatiran terkait sanksi, serta menunggu data ekonomi utama dari The Fed dan laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pekan ini.(sumber foto: reutres)

Nusantaraterkini.co, New York - pada perdagangan Senin (6/1/2025) harga minyak mentah melemah di tengah penguatan dolar Amerika Serikat (AS), kekhawatiran terkait sanksi, serta menunggu data ekonomi utama dari The Fed dan laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis pekan ini.

BACA: Harga Minyak Mentah Melanjutkan Penguatan di Hari Perdagangan Kelima Berturut-turut

Berdasarkan data dari Reuters, harga minyak mentah Brent turun 21 sen, atau 0,3%, menjadi US$76,3 per barel pada pukul 04.45 GMT, setelah ditutup pada level tertinggi sejak 14 Oktober, Jumat lalu.

Baca Juga : Harga Minyak Mentah Terkoreksi Dipicu Pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Volodymyr Zelenskiy

Sedangkan, minyak mentah mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 19 sen, atau 0,3%, ke US$73,77 per barel setelah mencapai level tertinggi sejak 11 Oktober pada penutupan sebelumnya.

BACA: Harga Minyak Mentah Menguat 0,28% ke Level US$ 71,92 Per Barel di Awal Perdagangan Tahun 2025

Harga minyak mentah mencatat kenaikan lima sesi berturut-turut sebelumnya, didukung oleh harapan peningkatan permintaan akibat cuaca dingin di belahan bumi utara dan stimulus fiskal tambahan dari China untuk menghidupkan kembali ekonominya yang melemah.

Baca Juga : Harga Minyak Mentah Stabil Setelah Sebelumnya Mencapai Level Tertinggi Dalam Beberapa Bulan

Namun, penguatan dolar AS menjadi perhatian utama investor, tulis Priyanka Sachdeva, Analis Senior Pasar di Phillip Nova, dalam laporannya, Senin.

BACA: Harga Minyak Mentah Naik Tipis Dalam Perdagangan Akhir Tahun yang Sepi

Dolar AS bertahan di dekat puncak dua tahunnya pada hari Senin. Penguatan dolar membuat komoditas yang dihargai dalam mata uang ini menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain, sehingga menekan permintaan minyak.

Baca Juga : Krisis Energi Global, DPR Soroti Keberhasilan Pemerintah Tahan Harga BBM

Investor juga menantikan berita ekonomi yang dapat memberikan petunjuk lebih lanjut tentang prospek kebijakan suku bunga The Fed dan konsumsi energi.

BACA: Harga Minyak Turun Mentah Tipis Meski Masih Bertahan di Atas Level US$ 70 Per Barel Jelang Malam Tahun Baru

Risalah pertemuan terakhir The Fed akan dirilis pada Rabu (8/1). Sementara laporan ketenagakerjaan Desember dijadwalkan pada Jumat.

Baca Juga : Selat Hormuz Dibuka Kembali, Harga Minyak Mentah Dunia Langsung Anjlok 10 Persen

Selain itu, sentimen pasar tertekan oleh gangguan pasokan minyak Iran dan Rusia seiring peningkatan sanksi dari negara-negara Barat.

Pemerintahan Biden berencana untuk memberlakukan lebih banyak sanksi terhadap Rusia atas perang di Ukraina, dengan menargetkan pendapatan minyaknya melalui tindakan terhadap kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Rusia, menurut dua sumber yang mengetahui masalah ini pada Minggu.

Goldman Sachs memperkirakan produksi dan ekspor Iran akan menurun pada kuartal kedua tahun ini akibat perubahan kebijakan dan sanksi yang lebih ketat dari pemerintahan Presiden AS terpilih Donald Trump.

Baca Juga : Rupiah Melonjak 0,74% ke Rp16.850, Dolar AS Melemah di Tengah Sentimen Global

Produksi Iran diperkirakan turun 300.000 barel per hari menjadi 3,25 juta barel per hari pada kuartal kedua.

Jumlah rig minyak AS, yang menjadi indikator produksi masa depan, turun satu menjadi 482 rig minggu lalu, menurut laporan mingguan dari perusahaan jasa energi Baker Hughes, Jumat lalu.

Meski demikian, pasar minyak global diperkirakan akan menghadapi surplus pasokan tahun ini.

Baca Juga : Timur Tengah Memanas, Daya Tarik Dolar AS Sebagai Lindung Nilai Melemah

Kenaikan pasokan non-OPEC diproyeksikan oleh para analis akan cukup untuk mengimbangi peningkatan permintaan global, terutama dengan kemungkinan peningkatan produksi minyak AS di bawah kepemimpinan Trump.