Nusantaraterkini.co, Jakarta - Harga minyak menguat dua hari perdagangan beruntun di mana harga minyak sempat tertahan oleh ancaman tarif Amerika Serikat (AS) terhadap minyak mentah Kanada dan Meksiko yang dapat berlaku akhir pekan ini.
Di mana harga minyak WTI kontrak Maret 2025 di New York Mercantile Exchange menguat 0,44% ke US$ 73,05 per barel. Sedangkan dalam sepekan, harga minyak WTI turun 2,16%.
Kemarin, harga minyak mentah Brent naik 0,38% menjadi US$ 76,87 per barel.
Baca Juga : Krisis Energi Global, DPR Soroti Keberhasilan Pemerintah Tahan Harga BBM
"Kita semakin dekat dengan tenggat waktu dan orang-orang mulai gelisah," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group kepada Reuters.
Presiden AS Donald Trump telah mengancam akan mengenakan tarif 25% paling cepat Sabtu (1/2) atas ekspor Kanada dan Meksiko ke AS jika kedua negara itu tidak menghentikan pengiriman fenatanil melintasi perbatasan AS.
Gedung Putih pada hari Selasa menegaskan kembali rencana Trump untuk mengenakan tarif 25% pada impor dari Kanada dan Meksiko.
Baca Juga : Selat Hormuz Dibuka Kembali, Harga Minyak Mentah Dunia Langsung Anjlok 10 Persen
Pada hari Rabu, calon presiden untuk mengepalai Departemen Perdagangan mengatakan kedua negara dapat menghindari hal ini jika mereka bertindak cepat untuk menutup perbatasan mereka terhadap fentanil.
Namun, analis pasar IG Tony Sycamore mengatakan para traders telah memperhitungkan tarif Trump. "(Ini) alasan utama mengapa minyak mentah diperdagangkan di tempatnya saat ini," kata Sycamore.
Badai musim dingin menghantam permintaan AS minggu lalu, dengan stok minyak mentah di AS meningkat sebesar 3,5 juta barel karena penyulingan memangkas produksi. Para analis memperkirakan kenaikan sebesar 3,2 juta barel, menurut jajak pendapat Reuters.
Di sisi pasokan, sanksi terbaru AS terhadap Rusia menekan ekspor minyak mentah dari pelabuhan-pelabuhan barat Rusia. Sementara Rusia akan meningkatkan penyulingan sehingga ekspor minyak diprediksikan turun 8% pada bulan Februari dari rencana Januari.
Investor juga menantikan pertemuan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya termasuk Rusia, yang disebut OPEC+, yang dijadwalkan pada 3 Februari.
Kelompok tersebut akan membahas upaya Trump untuk meningkatkan produksi minyak AS dan mengambil sikap bersama terkait masalah tersebut, kata Kazakhstan pada hari Rabu.
Namun, analis yakin perang harga antara AS dan OPEC+ tidak mungkin terjadi karena dapat merugikan keduanya.
"Perang harga dengan AS akan melibatkan produsen OPEC+ yang memaksimalkan produksi mereka untuk melemahkan harga dan mendorong produksi serpih menurun," kata analis di BMI, divisi Fitch Group, dalam sebuah catatan.
