Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Harga Minyak Mentah Merosot Setelah Laporan OPEC+ akan Lanjutkan Kenaikan Produksi pada April

Editor :  Team
Reporter :  wiwin
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
harga minyak mentah terus merosot setelah laporan bahwa OPEC+ akan melanjutkan rencana kenaikan produksi pada April.

Nusantaraterkini.co, New York - Pada perdagangan Selasa (4/3/2025) harga minyak mentah terus merosot setelah laporan bahwa OPEC+ akan melanjutkan rencana kenaikan produksi pada April.

Selain itu, pasar bersiap menghadapi dampak tarif baru AS terhadap Kanada, Meksiko, dan China, serta tarif balasan dari Beijing.

Melansir Reuters, harga minyak mentah Brent turun 90 sen atau 1,26% menjadi US$70,72 per barel pada pukul 08:27 GMT.

Baca Juga : Krisis Energi Global, DPR Soroti Keberhasilan Pemerintah Tahan Harga BBM

Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 79 sen atau 1,16% menjadi US$67,58 per barel.

"Penurunan harga minyak saat ini terutama didorong oleh keputusan OPEC+ untuk meningkatkan produksi serta penerapan tarif baru oleh AS," kata Darren Lim, analis komoditas di Phillip Nova.

Faktor lain yang turut berkontribusi adalah keputusan Presiden Donald Trump untuk menangguhkan seluruh bantuan militer AS ke Ukraina setelah ketegangan dalam pertemuannya dengan Presiden Volodymyr Zelenskiy pekan lalu.

Baca Juga : Selat Hormuz Dibuka Kembali, Harga Minyak Mentah Dunia Langsung Anjlok 10 Persen

Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya seperti Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, pada Senin (3/3) memutuskan untuk tetap menaikkan produksi minyak sebesar 138.000 barel per hari mulai April.

Ini merupakan kenaikan pertama sejak 2022.

"Keputusan ini bertujuan untuk secara bertahap mengakhiri pemangkasan produksi sebelumnya, tetapi menimbulkan kekhawatiran akan potensi kelebihan pasokan di pasar," tambah Lim.

Pada Selasa pukul 12:01 EST (05:01 GMT), tarif impor AS sebesar 25% untuk produk dari Kanada dan Meksiko mulai berlaku, termasuk tarif 10% untuk sektor energi Kanada.

Sementara itu, tarif impor produk China meningkat dari 10% menjadi 20%.

Para analis memperkirakan bahwa tarif ini akan berdampak pada aktivitas ekonomi dan permintaan bahan bakar, sehingga menekan harga minyak lebih lanjut.

"Pelaku pasar masih berusaha menilai dampak dari berbagai kebijakan energi yang diumumkan oleh pemerintahan Trump bulan ini," tulis para analis BMI dalam sebuah catatan.

Namun, kebijakan yang menekan harga minyak, terutama tarif AS, saat ini lebih dominan dibanding faktor lain.

Sebagai respons terhadap tarif AS, China dengan cepat memberlakukan tarif balasan sebesar 10%-15% terhadap berbagai produk pertanian dan makanan dari AS, serta membatasi ekspor dan investasi 25 perusahaan AS.