Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Harga Minyak Mentah Naik Mendekati Level US$ 80 Per Barel Sejak Desember 2024

Editor :  Team
Reporter :  wiwin
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Harga minyak mentah Brent terpantau melemah 2.39% dalam sepekan ke level US$79.24 per barel.(Sumber foto: reuters)

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Berdasarkan data dari Tradingeconomics, Diperdagangan Kamis (23/1) harga minyak mentah WTI melemah 2.62% sepekan ke level US$ 75.69 per barel. 

Sementara itu, minyak mentah Brent terpantau melemah 2.39% dalam sepekan ke level US$79.24 per barel.

Harga minyak masih negatif sejak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan darurat energi nasional pada hari pelantikannya, Senin (20/1). Laporan terbaru peningkatan stok minyak AS kembali membebani pasar minyak.

Baca Juga : Krisis Energi Global, DPR Soroti Keberhasilan Pemerintah Tahan Harga BBM

Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menilai bahwa koreksi harga minyak saat ini wajar karena sudah naik mendekati level US$ 80 per barel sejak Desember 2024. Minyak sebelumnya didukung oleh sanksi tambahan Joe Biden terhadap Rusia yang telah melewati batas.

Lukman turut menyoroti kebijakan pro fosil Trump yang sebenarnya tidak meningkatkan konsumsi minyak mentah AS secara signifikan, melainkan justru menambah produksi. Kenaikan produksi akan terjadi di Amerika Utara dan potensi pemulihan produksi dari Organisi Pengekspor Minyak Mentah (OPEC).

Produksi minyak Nigeria pun diperkirakan bisa melampaui kuota OPEC+ sebesar 1,5 juta barel per hari (bph). Saat ini produksi Nigeria sudah pulih mendekati 1.5 juta Bph dan diperkirakan berpotensi naik hingga 1.8 juta bph.

Baca Juga : Selat Hormuz Dibuka Kembali, Harga Minyak Mentah Dunia Langsung Anjlok 10 Persen

"Prospek masa depan minyak mentah masih suram. Permintaan masih lemah, pasokan masih akan kuat," ujar Lukman.

Di bawah kepemimpinan Trump, produksi minyak AS diperkirakan meningkat karena biaya energi yang rendah bagi warga Amerika. Pengumuman keadaan darurat energi nasional wujudnya yakni mempercepat perizinan, mencabut perlindungan lingkungan, dan menarik AS dari pakta internasional untuk melawan perubahan iklim (Paris Agreement).

Terkhusus saat ini, Lukman mencermati, penurunan harga minyak disebabkan laporan American Petroleum Institute (API) yang menunjukkan peningkatan kembali stok minyak. Terjadi peningkatan tak terduga sebesar 1 juta barel dalam persediaan minyak mentah AS.

Tim Riset Indonesia Commodity and Derivative Exchange (ICDX) mengungkapkan, stok minyak mentah meningkat sebesar 1 juta barel untuk pekan yang berakhir 10 Januari berdasarkan rilis industri API. Stok bensin juga dilaporkan mengalami kenaikan sebesar 5,39 juta barel.

"Laporan API tersebut mengindikasikan permintaan yang lesu di pasar energi AS. Meski demikian, pasar masih menantikan laporan resmi versi pemerintah yang akan dirilis pada Kamis malam oleh badan statistik EIA," ujar tim riset ICDX, Kamis (23/1).

ICDX melihat bahwa harga minyak terpantau masih bergerak tertekan dibebani oleh sejumlah sentimen negatif antara lain kekhawatiran akan memburuknya hubungan dagang AS dengan China, ancaman tarif baru Trump terhadap Rusia, dan laporan stok terbaru API.

Survei tahunan terbaru yang dirilis pada hari Kamis oleh Kamar Dagang AS (AmCham) menunjukkan 51% dari 368 perusahaan AS di China khawatir akan memburuknya hubungan dagang antara AS dengan China di masa mendatang. Level kekhawatiran tersebut sekaligus merupakan level tertinggi dalam 5 tahun.

Turut membebani pergerakan harga, Presiden AS Donald Trump pada hari Rabu mengatakan akan menambahkan tarif baru dalam daftar sanksi terhadap Rusia, jika tidak membuat kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Ukraina. Hal itu juga dapat diterapkan pada negara lainnya yang terlibat.

Melihat dari sudut pandang teknis, Tim Riset ICDX mencermati, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$78 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif, maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 73 per barel.

Sementara itu, Lukman memproyeksi pergerakan harga minyak mentah WTI dalam jangka panjang akan kembali pada level US$ 60 barel di tahun 2025.