Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Selasa (5/8/2025) Harga minyak mentah turun waktu setempat, tertekan oleh kenaikan pasokan dari OPEC+ dan kekhawatiran akan lemahnya permintaan global.
Baca Juga : Harga Minyak Mentah Brent Turun 20 Sen Berada di Level US$69,95 Per Barel
Meskipun pasar sempat diguncang oleh ancaman tarif Presiden AS Donald Trump terhadap India atas impor minyak Rusia.
Melansir Reuters, kontrak Brent ditutup melemah US$ 1,12 atau 1,63% ke level US$ 67,64 per barel.
Sementara minyak WTI turun US$ 1,13 atau 1,7% ke US$ 65,16 per barel. Kedua harga acuan ini mencapai posisi penutupan terendah dalam lima pekan terakhir.
Baca Juga : Harga Minyak Mentah Turun Setelah Naik Hampir 2% Terseret Tarif Impor AS
Penurunan ini terjadi setelah OPEC+ sepakat pada Minggu lalu untuk meningkatkan produksi sebesar 547.000 barel per hari (bph) mulai September, mempercepat berakhirnya pemangkasan produksi sebelumnya.
“Lonjakan signifikan pasokan dari OPEC membebani pasar,” ujar Andrew Lipow, Presiden Lipow Oil Associates.
Baca Juga : Harga Minyak Mentah Terkoreksi Tipis Namun Tetap Stabil di Level US$ 67 Per Barel
Tekanan tambahan datang dari data ekonomi AS, di mana aktivitas sektor jasa stagnan pada Juli.
Pesanan baru nyaris tak berubah dan lapangan kerja terus melemah, sementara biaya input melonjak paling tinggi dalam tiga tahun terakhir.
Hal ini mencerminkan ketidakpastian akibat kebijakan tarif pemerintahan Trump yang masih membayangi dunia usaha.
Baca Juga : Harga Minyak Mentah Dunia Ditutup Stabil Dipicu Laporan OPEC+
Lipow menambahkan, “Pasar kini menunggu apakah India dan China bersedia memangkas impor minyak Rusia secara signifikan dan mencari sumber pasokan lain.”
Trump kembali mengancam India dengan tarif lebih tinggi dalam 24 jam ke depan karena masih membeli minyak Rusia.
Ia juga menyatakan bahwa turunnya harga energi dapat menekan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghentikan perang di Ukraina.
Namun, pemerintah India menyebut ancaman tersebut “tidak berdasar” dan berkomitmen untuk melindungi kepentingan ekonominya, memperdalam ketegangan perdagangan antara kedua negara.
John Evans dari PVM Oil Associates mengatakan, pergerakan harga minyak pasca-ancaman Trump menunjukkan bahwa pelaku pasar masih skeptis akan terjadinya gangguan pasokan.
“Saya menyebut pasar minyak saat ini relatif stabil,” kata Giovanni Staunovo, analis UBS. “Kemungkinan kondisi ini akan bertahan sampai ada kejelasan soal langkah Trump terhadap Rusia dan bagaimana reaksi para pembeli minyak.”
India merupakan importir terbesar minyak mentah Rusia via laut, dengan volume mencapai 1,75 juta barel per hari sepanjang Januari–Juni 2025, naik 1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut data perdagangan yang dikutip Reuters.
Sementara itu, sumber yang mengutip data American Petroleum Institute (API) menyebut bahwa stok minyak mentah AS turun 4,2 juta barel pada pekan lalu.
Data resmi dari U.S. Energy Information Administration (EIA) akan dirilis pada Rabu waktu setempat.
