Nusantaraterkini.co, JAKARTA – Anggota Komisi XI DPR Amin Ak menyoroti pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi sinyal penting yang harus dicermati serius oleh pemerintah.
Baca Juga : Pasar Keuangan Lesu, Marwan Jafar: Investor Asing Tinggalkan RI karena Krisis Kepercayaan
“IHSG yang terkoreksi tajam dalam beberapa hari terakhir dan pelemahan rupiah hingga menyentuh level Rp18.000 per dolar AS merupakan sinyal yang perlu dicermati secara serius. Pemerintah tidak boleh menganggap ini sebagai gejolak biasa, tetapi harus membaca secara utuh pesan yang sedang disampaikan pasar,” ujarnya, Sabtu (6/6/2026).
Baca Juga : Rupiah Cetak Rekor Terlemah di Rp17.881 per Dolar AS, BI Perketat Aturan Transaksi Valas Mulai Juni 2026
Amin menilai tekanan global seperti ketegangan geopolitik, penguatan dolar AS, dan volatilitas pasar internasional memang turut memengaruhi pasar keuangan Indonesia. Namun demikian, pemerintah dinilai perlu lebih fokus memperkuat faktor-faktor domestik guna menjaga optimisme investor.
Menurutnya, pasar keuangan sangat sensitif terhadap persepsi dan tingkat kepercayaan. Karena itu, stabilitas ekonomi serta kepastian arah kebijakan menjadi faktor utama yang harus dijaga.
Baca Juga : IHSG Berhenti Menguat, Investor Asing Lepas Saham Perbankan dan Komoditas
“Kepercayaan investor adalah aset yang sangat berharga. Ketika pasar melihat adanya ketidakpastian, baik terkait arah kebijakan maupun kondisi ekonomi ke depan, maka respons yang muncul biasanya berupa aksi jual dan perpindahan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman,” katanya.
Baca Juga : IHSG Berpeluang Lanjut Rebound, MNC Sekuritas Soroti AMMN, BIPI, MINA dan WIFI sebagai Pilihan Cuan
Wakil Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI itu mengapresiasi langkah pemerintah, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam menjaga stabilitas pasar.
Namun, ia menilai upaya tersebut perlu diperkuat melalui komunikasi kebijakan yang konsisten dan respons yang lebih cepat terhadap dinamika pasar.
Baca Juga : Diplomasi Parlemen: Strategi DPR RI Menjadi Jembatan Perdamaian di Tengah Gejolak Global
“Fundamental ekonomi memang penting, tetapi fundamental yang baik harus mampu diterjemahkan menjadi keyakinan pasar. Karena itu, pemerintah perlu memastikan bahwa pesan mengenai kondisi ekonomi nasional tersampaikan dengan baik dan didukung oleh langkah-langkah nyata yang dapat meningkatkan keyakinan pelaku pasar,” ujarnya.
Baca Juga : Kurniasih Mufidayati: Pendidikan Bukan Sekadar Sistem, Tapi Investasi Masa Depan Bangsa
Selain itu, Amin juga menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang telah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya impor, menambah beban dunia usaha, serta menekan daya beli masyarakat apabila berlangsung dalam jangka panjang.
“Nilai tukar rupiah harus menjadi perhatian khusus. Kita memahami ada faktor global yang kuat, tetapi pemerintah bersama otoritas moneter perlu memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga agar tidak menimbulkan efek lanjutan terhadap sektor riil dan aktivitas ekonomi masyarakat,” tegasnya.
Amin berharap pemerintah memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan. Ia juga mendorong penguatan iklim investasi, peningkatan transparansi kebijakan, serta langkah-langkah yang mampu menarik kembali arus modal ke pasar domestik.
“Kita ingin pasar modal Indonesia kembali menjadi tujuan investasi yang menarik. Karena itu, stabilitas harus dijaga, kepastian harus diperkuat, dan kepercayaan investor harus dipulihkan. Dengan fondasi ekonomi yang kuat dan kebijakan yang tepat, saya yakin Indonesia mampu melewati fase tekanan ini dengan baik,” pungkasnya.
(LS/Nusantaraterkini.co)
