Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Senin (26/1/2026). Pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati, meski sentimen global menunjukkan sinyal yang relatif positif.
CGS International Sekuritas Indonesia menilai penguatan mayoritas indeks di Wall Street, ditambah reli harga sejumlah komoditas utama seperti minyak mentah, gas alam, timah, nikel, tembaga, hingga emas, berpeluang menopang sentimen pasar domestik.
Namun demikian, kehati-hatian investor menjelang hasil konsultasi indeks MSCI dinilai dapat menjadi faktor penekan pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
Baca Juga : IHSG Hari Ini Diprediksi Masih Tertekan, Simak Rekomendasi Saham BBRI hingga INCO
“Pergerakan IHSG diproyeksikan fluktuatif dengan kecenderungan melemah, dengan area support di kisaran 8.855–8.760 dan level resistance di 9.050–9.145,” tulis CGS International Sekuritas Indonesia dalam risetnya, Senin (26/1/2026).
Pada akhir pekan lalu, bursa saham Amerika Serikat ditutup bervariasi. Mayoritas indeks mencatatkan penguatan terbatas seiring meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Eropa terkait isu Greenland.
Meski demikian, tekanan pada saham Goldman Sachs Group, Inc yang terkoreksi 3,75% membuat indeks Dow Jones berakhir di zona merah.
Baca Juga : IHSG Hari Ini Dibuka Turun ke 7.146 pada Perdagangan 8 Mei 2026, Investor Pantau Sentimen Global
Sebelumnya, Wall Street sempat mencatatkan tren penguatan sejak Rabu waktu setempat, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tidak akan menggunakan opsi militer untuk mengambil alih Greenland serta membatalkan rencana pengenaan tarif impor terhadap delapan negara anggota NATO.
Di tengah potensi koreksi IHSG, CGS International Sekuritas Indonesia tetap merekomendasikan sejumlah saham untuk strategi trading jangka pendek, yakni INCO, BRIS, ANTM, HRTA, MDKA, dan PWON.
(Dra/nusantaraterkini.co).
Baca Juga : IHSG Hari Ini Berpeluang Rebound Tipis, Ini Rekomendasi Saham Pilihan
