Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Kebun Atap Ubah Desa Miskin di Mesir jadi Oasis yang Subur

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Seorang petani terlihat mengurus kebun sayuran di atap bangunan di Desa Nagaa Aoun di Kegubernuran Beheira, Mesir, pada 18 Februari 2025. (Foto: Xinhua/Ahmed Gomaa)

Nusantaraterkini.co, BEHEIRASempat menjadi desa miskin karena terbelit kesulitan, Nagaa Aoun di Kegubernuran Beheira, yang terletak di sebelah utara Kairo, Mesir, kini mengalami transformasi signifikan.

Melalui praktik kebun atap yang inovatif, masyarakat di desa tersebut berhasil mencapai swasembada sayuran dan menikmati pendapatan yang stabil.

Adalah Ragab Rabie (45) yang memperkenalkan konsep kebun atap ke desa tersebut 10 tahun lalu. Rabie, yang tadinya berprofesi sebagai nelayan, terinspirasi oleh sebuah video tentang petani China yang menanam di atap rumahnya.

Melihat peluang untuk memperbaiki kondisi keuangannya sendiri maupun masyarakat lain, Rabie kemudian mulai mencari cara untuk menerapkan ide tersebut di desanya.

Setelah melakukan penelitian soal pertanian hidroponik, Rabie meyakinkan beberapa warga untuk berpartisipasi dalam sebuah proyek percontohan.

“Tantangan awalnya sebagian besar rumah di desa ini terbuat dari jerami dan alang-alang, sehingga tidak cocok untuk membuat atap kebun. Namun, berkat bantuan pinjaman dari bank dan lembaga pemberi pinjaman, banyak warga desa mampu membangun rumah baru dengan atap beton, yang sangat cocok untuk memasang unit-unit hidroponik,” ujar Rabie kepada Xinhua.

Baca Juga: Bahas Swasembada Pangan, Prabowo: Pengusaha Harus Untung tapi Jangan Untung Seenaknya!

Desa Nagaa Aoun yang terletak di antara danau-danau garam kecil dan lahan yang tandus ini, sebelumnya menghadapi kesulitan ekonomi. Banyak pria yang bekerja sebagai buruh harian di kota-kota terdekat, mencari pekerjaan di bidang konstruksi, reparasi otomotif, dan pertanian.

Saat ini, warga Desa Nagaa Aoun menuai banyak manfaat dari praktik kebun atap. Rabie mengatakan bahwa setiap unit hidroponik, dengan ukuran lebar 105 sentimeter dan panjang 3 meter, dapat menghasilkan 405 bibit, atau setara dengan output dari lahan seluas 175 meter persegi.

Unit-unit hidroponik itu dapat ditanami sebanyak empat kali dalam setahun, menggunakan kurang dari seperempat jumlah udara yang dibutuhkan dalam metode pertanian konvensional, karena sistem hidroponik menyirkulasikan udara dalam siklus (loop) tertutup, sehingga mengurangi pemborosan udara.

Menurut Rabie, proyek kebun atap ini secara signifikan mengurangi angka kemiskinan di Desa Nagaa Aoun hingga 95 persen dan meningkatkan standar hidup. Warga memperoleh manfaat dari perumahan, pakaian, dan makanan yang lebih layak.

Rabie meyakini bahwa solusi-solusi inovatif seperti kebun atap ini merupakan kunci bagi masa depan pertanian di Mesir, mengingat lahan di negara tersebut yang dapat ditanami hanya 3-4 persen.

“Warga desa ini tidak memiliki lahan pertanian, tetapi mereka memiliki atap rumah mereka,” tuturnya.

Rabie dan warga Nagaa Aoun pun berencana mendorong praktik kebun atap di desa-desa tetangga, dengan harapan dapat meningkatkan ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi di wilayah pedesaan di Mesir.

Selain itu, Rabie juga mengikuti berbagai kemajuan terkait teknologi kebun atap di China. Dia berharap dapat menjalin kolaborasi dengan perusahaan-perusahaan China untuk meningkatkan produksi dan pendapatan warga setempat.

“China sangat maju dalam praktik kebun atap, dan kami bisa belajar banyak dari pengalaman dan teknologi mereka,” ujar Rabie.

Baca Juga: Wujudkan Swasembada Pangan, Negara Harus Hadir Untuk Petani

Khaled Guwaida (50), seorang warga desa yang tadinya berprofesi sebagai teknisi listrik, diyakinkan oleh Rabie untuk mencoba budidaya kebun atap dan berhasil sukses di desa yang dulunya miskin tersebut.

“Saya mendapatkan pinjaman, membangun rumah baru, dan memasang unit hidroponik di atap rumah,” ujarnya.

Guwaida kini mengoperasikan bisnis persemaian bibit yang menjual benih dan bibit kepada petani tradisional, sehingga memberikan pendapatan yang stabil untuk dirinya sendiri dan peluang kerja bagi kalangan pemuda setempat.

“Bisnis saya menopang para pemuda di desa ini yang belum memiliki sarana untuk membangun kebun atap mereka sendiri,” tutur Guwaida.

Inisiatif itu juga telah merambah ke Universitas Alexandria, di mana warga desa membantu membangun unit-unit hidroponik guna memasok bibit dan tanaman aromatik untuk penelitian pertanian.

“Kami ingin menjadi model bagi desa-desa lainnya dan membantu menyebarkan metode pertanian ini ke seluruh Mesir,” ujar Guwaida.

(Zie/Nusantaraterkini.co)

Sumber: Xinhua