Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Kisah Tangguh Nilawati Berjuang 16 Tahun jadi Tulang Punggung Keluarga karena Suami Terbaring Sakit, Cari Nafkah di Warung Nasi

Reporter :  Junaidin Zai
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Nilawati 55 tahun, seorang istri yang bekerja di warung makan sederhana di Kota Medan. Dia dibayar Rp70 ribu satu hari, sementara itu dia harus membagi uangnya untuk obat suaminya yang sudah 16 tahun terbaring sakit. (Foto: Junaidin Zai/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, MEDAN – Siang itu, aroma kuah gulai dan gorengan ikan menyebar di sebuah warung makan sederhana di Jalan Mandala By Pass, Kecamatan Medan Denai.

Piring-piring berderak, sendok beradu dengan wajan, suara pembeli bercampur dengan dengung kipas angin tua yang berputar lambat.

Di balik etalase kaca, seorang perempuan berusia 55 tahun sibuk mengemas nasi bungkus. Tangannya keriput, jemarinya memerah memegang centong panas. Sambil bekerja, ia masih sempat menanyakan selera sambal pembeli. Namanya Nilawati.

Baca Juga : Orangtua Harus Tahu Cara Perkaya Kosa Kata pada Sang Buah Hati

Setiap hari, ia bekerja dari pagi hingga malam. Dari warung yang selalu ramai di jam makan siang itu, ia hanya membawa pulang upah Rp70 ribu. Bukan untuk dirinya semata.

Sejak 16 tahun lalu, suaminya terbaring sakit di rumah kontrakan kecil. Sejak itu pula, semua beban keluarga jatuh ke pundaknya.

“Kalau ditanya cukup atau tidak, ya enggak cukuplah. Tapi ya begitulah,” katanya, Sabtu (27/9/2025) sore.

Baca Juga : Durian dan Nenas Sebabkan Keguguran Bagi Wanita Hamil

Ucapannya disertai tawa kecil, meski matanya menyimpan basah.

Rumah yang ditinggali Nilawati berada di gang sempit, berlantai semen yang sudah retak-retak. Dindingnya lembap, sebagian cat terkelupas, dan atap seng berkarat kerap meneteskan air kala hujan turun.

Di dalam rumah hanya ada satu ranjang besi tua, tempat sang suami berbaring.

Baca Juga : Monica Kezia Sembiring Juara Miss Indonesia 2024 Kalahkan 37 Finalis, Ini Sosoknya

Rutinitas Nilawati selalu sama. Pagi-pagi, sebelum berangkat kerja, ia mengganti kain sarung suaminya, menyuapinya bubur, lalu menyiapkan air minum dalam botol plastik bekas.

Malam harinya, setelah pulang dengan badan letih, ia kembali duduk di sisi ranjang, menyuapi obat, dan mengelus dada lelaki yang dulu menjadi tulang punggung keluarga.

“Saya sudah biasa begini. Kalau mau sedih, ya sedih. Tapi harus tetap jalan,” ucapnya lirih.

Baca Juga : Hand Body yang Bagus untuk Memutihkan Kulit

Nilawati sempat mencoba peruntungan dengan berjualan bakso tusuk. Namun modal habis lebih cepat daripada keuntungan. Ia juga pernah merantau ke Malaysia, berharap mendapat penghasilan lebih.

“Baru tiga bulan, saya pulang diam-diam. Enggak kuat. Suami makin parah,” katanya.

Kini, ia hanya bisa menggantungkan harapan pada pekerjaan di warung nasi.

Baca Juga : Mengenal Lebih Dekat Tentang Menstruasi

Dengan Rp70 ribu sehari, ia harus pintar-pintar mengatur agar tetap ada beras di dapur, obat generik dari puskesmas, serta ongkos sekolah anak bungsunya dulu.

Di warung, pelanggan mengenalnya sebagai pelayan yang ramah. Senyumnya nyaris tak pernah hilang, meski tubuhnya jelas menyimpan lelah.

Tak banyak yang tahu, setiap kali ia kembali ke rumah kontrakan, ada air mata yang jatuh di sisi ranjang suaminya.

Baca Juga : Penyebab Pori-pori Membesar yang Patut Kalian Ketahui

“Mungkin ini cara Tuhan untuk menghapus dosa-dosa saya. Saya tetap bersyukur,” katanya sembari mengusap pipinya.

Anak sulungnya sudah menikah dan bekerja sebagai pengemudi ojek online. Tapi penghasilannya juga pas-pasan. Nilawati bahkan sering menolak saat anaknya ingin membantu.

“Mereka juga butuh, untuk anak-anaknya,” ujarnya.

Dengan Rp70 ribu per hari, Nilawati tahu ia tak bisa bermimpi besar. Namun ada satu permintaan yang selalu ia simpan.

“Kalau saya boleh minta, saya cuma ingin bapak bisa berdiri sekali saja. Biarpun sebentar,” ucapnya, suaranya parau.

Di warung, ia kembali melayani pembeli dengan senyum. Di rumah kontrakan, ia kembali menata bantal suaminya.

Antara dua dunia itu, Nilawati tetap bertahan, dengan cinta yang tak pernah surut.

(cw7/nusantaraterkini.co)