Nusantaraterkini.co, KINSHASA - Pemerintah Republik Demokratik (RD) Kongo pada Rabu (31/12/2025) mengatakan lebih dari 1.500 warga sipil tewas akibat meningkatnya kekerasan di Provinsi Kivu Selatan, RD Kongo bagian timur, sejak awal Desember.
Dalam sebuah pernyataan, pemerintah menyebutkan pertempuran semakin intensif di beberapa wilayah provinsi tersebut, terutama di sepanjang poros Kamanyola-Uvira, di mana operasi bersenjata memicu pengungsian besar-besaran.
Sementara itu, lebih dari 500.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka di tengah ketidakamanan yang terus berlanjut.
Baca Juga : Hamas Konfirmasi Kematian Abu Ubaida dan Sejumlah Komandan dalam Perang Gaza
Pemerintah mengatakan garis depan pertempuran secara bertahap bergeser ke arah selatan, memengaruhi beberapa wilayah di Kivu Selatan, termasuk Uvira, Fizi, dan Mwenga.
Otoritas setempat menyalahkan eskalasi tersebut pada kelompok-kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah itu, menuduh mereka melanggar komitmen yang berlaku dan hukum humaniter internasional.
Pemerintah menegaskan kembali tekadnya untuk memulihkan otoritas negara di seluruh RD Kongo serta menuntut pertanggungjawaban kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab melalui jalur diplomatik dan yudisial.
Baca Juga : Trump Ancam Tindakan Militer Jika Iran Aktifkan Lagi Program Nuklir
RD Kongo bagian timur selama puluhan tahun menghadapi instabilitas, dengan situasinya bertambah buruk sejak kebangkitan kembali kelompok pemberontak Gerakan 23 Maret (March 23 Movement/M23) pada akhir 2021.
Kinshasa berulang kali menuduh Rwanda, yang merupakan negara tetangganya, mendukung kelompok tersebut, tuduhan yang telah dibantah oleh Kigali.
(*/Nusantaraterkini.co)
Sumber: Xinhua
