Nusantaraterkini.co,TAPANULI UTARA-Jumlah korban jiwa akibat rangkaian banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumut hingga Kamis (27/12/2025) sebanyak 32 Orang. Menurut data dari Polda Sumut ini puluhan lainnya juga mengalami luka dan ribuan mengungsi.
Berdasarkan data tersebut, satu orang tewas di Nias Selatan, dua di Pakpak Bharat, empat di Tapanuli Tengah, serta 12 orang meninggal dan satu hilang di Tapanuli Selatan. Di Kota Sibolga, lima orang ditemukan meninggal dan empat lainnya masih hilang. Selain itu, 37 warga mengalami luka ringan dan 6 luka berat.
Baca Juga : Bupati Tapteng Terjebak Dua Hari di Taput Akibat Longsor di Adian Koting
Dalam tiga hari, 86 kejadian bencana tercatat di Sumatera Utara. Rinciannya, 59 longsor, 21 banjir, empat pohon tumbang, dan dua puting beliung. Kabupaten Humbang Hasundutan menjadi daerah dengan kejadian longsor terbanyak 17 titik disusul Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Sibolga.
Sebelas daerah kini berada dalam status terdampak, yakni Mandailing Natal, Nias Selatan, Nias, Pakpak Bharat, Serdang Bedagai, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, Sibolga, Kota Padangsidimpuan dan Humbang Hasundutan.
Sementara itu, akses komunikasi ke Tapteng dan Sibolga masih terputus. Rizki Ananda, mahasiswa asal Barus, Tapanuli Tengah, sudah dua hari tidak mendapat kabar dari keluarganya.
"Sejak Rabu sore komunikasi itu cuma sebentar. Hari ini enggak ada kabar sama sekali. Tolonglah, saya lihat video sungai di Barus sudah meluap," ujarnya, Kamis pagi.
Di rumah, kata Rizki, hanya ada ayah, ibu, dan adiknya. Namun hingga kini ia tak mengetahui kondisi mereka.
Baca Juga : Banjir dan Longsor Tapanuli, Dua Bupati Minta Tindak Lanjut Provinsi dan Pusat
“Saya khawatir. Enggak ada yang tahu mereka sekarang di mana. Tanggul sungai dan jalan di sana sudah putus,” katanya.
Kecemasan serupa dirasakan Ahmad Faisal Zai, perantau asal Kecamatan Sorkam yang berada di Batam. Ia terakhir berbicara dengan orang tuanya pada Selasa malam, 23 November 2025.
Video call tak berlangsung lebih dari satu menit sebelum listrik padam dan sambungan telepon terputus. “Mamak bilang air sudah masuk ke rumah. Setelah itu mati total, enggak bisa dihubungi," tuturnya.
Sejak itu, kabar mengenai kedua orang tuanya seperti hilang ditelan bencana.
Baca Juga : Jalan Lintas Taput–Tapteng Longsor, Lalu Lintas Sempat Lumpuh di Dolok Nauli
Begitupun dengan Ali Imran Pasaribu, seorang kepala rumah tangga asal Kota Sibolga. Dari Provinsi Sumatera Barat dia sama sekali belum mendapatkan kabar dari istri serta tiga orang anaknya. Sementara rekaman video yang menunjukkan kondisi kota Sibolga menambah kecemasan.
"Tolonglah tak ada yang bisa kulakukan sekarang," tuturnya.
Di banyak tempat, cerita seperti mereka berulang. Warga yang merantau menatap layar ponsel yang tak kunjung berbunyi, menunggu kabar dari orang-orang terkasih di tengah bencana alam kali ini.
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
