Nusantaraterkini.co, JAKARTA — Wakil Ketua MPR, Eddy Soeparno, menilai krisis energi global yang dipicu konflik berkepanjangan di Timur Tengah telah menciptakan fenomena “sellers market” dalam perdagangan minyak dan gas (migas).
Menurut Eddy, kondisi ini membuat kendali pasar berada di tangan negara atau pihak yang memiliki pasokan migas. Disrupsi energi global, termasuk terganggunya distribusi akibat penutupan Selat Hormuz, menyebabkan lonjakan permintaan di tengah terbatasnya pasokan.
Baca Juga : Sentimen Bisnis UKM Jepang Anjlok ke Titik Terendah Sejak 2022 Akibat Krisis Energi
“Untuk sementara, mekanisme pasar di sektor migas praktis terhenti. Kita menyaksikan ‘sellers market’ di mana produsen memiliki kendali penuh atas harga, volume, dan tujuan penjualan,” ujarnya, Sabtu (4/4/2026).
Baca Juga : Ketergantungan Impor Minyak Tinggi, DPR Desak Mitigasi Krisis Energi AS-Iran
Ia menjelaskan, dalam situasi tersebut, negara pengimpor seperti Indonesia harus mengoptimalkan kemampuan lobi, baik melalui jalur pemerintah ke pemerintah (G2G) maupun bisnis ke bisnis (B2B). Diplomasi energi dinilai menjadi kunci untuk memastikan ketersediaan pasokan nasional.
Eddy juga menekankan pentingnya peran Pertamina dalam memperkuat jaringan niaga guna memperoleh kepastian pasokan dari berbagai sumber, baik domestik maupun internasional.
Meski Indonesia belum menetapkan status darurat energi, Eddy mengingatkan bahwa dunia saat ini tengah berada dalam pusaran krisis energi. Tingkat ketidakpastian pasokan dan harga dinilai sangat tinggi.
“Indonesia harus waspada dan sigap mencari pasokan crude oil, gasoline, dan LPG yang selama ini masih bergantung pada impor,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menyebut kondisi ini sebagai alarm bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi, termasuk elektrifikasi dan pengembangan bioenergi.
“Kita merasakan betapa tipisnya batas antara ketahanan energi dan ketahanan nasional,” pungkasnya.
(LS/Nusantaraterkini.co)
