Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Lalu Ari: Pesantren Bukan Sekedar Lembaga Pendidikan tapi Penjaga Moral Bangsa

Editor :  Fadli Tara
Reporter :  Luki Setiawan
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!

Nusantaraterkini.co, Jakarta — Anggota DPR Lalu Hadrian Irfani menegaskan pentingnya menjaga martabat pondok pesantren di tengah derasnya arus modernitas. 

Ia menilai pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga benteng moral dan sumber nilai-nilai keindonesiaan yang telah membentuk karakter bangsa sejak masa perjuangan kemerdekaan.

Baca Juga : Main Bola Pakai Sarung, Wali Kota Binjai Siap Meriahkan Hari Santri Nasional 2025: se-Sumut Dipusatkan di Kota Binjai

“Pesantren adalah tempat di mana nilai-nilai keindonesiaan, gotong royong, hormat kepada guru, dan ketulusan hati hidup terus. Dari pesantren inilah lahir para ulama, pejuang, dan negarawan yang menjaga negeri ini,” ujar Lalu Hadrian Irfani menanggapi Mampukah Pesantren Bertahan di tengah Moderenisasi, Kamis (16/10/2025).

Baca Juga : Cak Imin dan Menag Bahas Standar Pesantren: 40 Ribu Lebih Belum Memenuhi Kelayakan

Lalu Ari sapaan itu juga menyinggung tayangan salah satu stasiun televisi swasta yang dinilai menyudutkan pesantren dan memicu reaksi publik. Menurutnya, peristiwa itu menjadi pengingat bagi bangsa Indonesia untuk kembali belajar adab dari pesantren dan para kiai.

“Mungkin Allah SWT sedang menegur kita semua melalui layar kaca, agar bangsa ini kembali belajar adab dari pesantren,” katanya.

*Usul Pendidikan Karakter Pesantren Masuk Kurikulum Nasional*

Selain memperjuangkan pengakuan formal, Lalu Hadrian juga mengusulkan agar nilai-nilai karakter khas pesantren, seperti etika, moral, sopan santun, dan penghormatan kepada guru, dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan nasional. “Kami akan mendorong agar pendidikan karakter pesantren menjadi contoh bagi pendidikan umum,” ujarnya.

Baca Juga : Sosialisasi Perda, HT Milwan: Pesantren Harus Jadi Garda Terdepan Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba

Terakhir, ia itu menutup dengan penegasan bahwa menjaga marwah pesantren berarti menyembuhkan luka moral bangsa. 

“Ketika santri tetap tersenyum dalam sabar, di situlah kita belajar arti kemenangan,” pungkasnya.

 (cw1/nusantaraterkini.co)