Nusantaraterkini.co, MEDAN - Suasana cerah pagi hari Kota Medan menjadi latar dimulainya perjalanan menarik bagi para mahasiswa internasional Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Rabu (24/4/2025).
Dalam rangkaian kegiatan pembelajaran luar kelas, Lembaga Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) UMSU menggelar darmawisata ke berbagai situs budaya dan sejarah yang menjadi ikon Kota Medan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pendekatan pembelajaran integratif, yakni mahasiswa diajak untuk tidak hanya memahami Bahasa Indonesia secara teoritis, tetapi juga melalui pengalaman langsung dan interaksi sosial.
Lima lokasi dikunjungi dalam kegiatan ini, yakni Istana Maimun, Pasar Petisah, Masjid Raya Al-Mashun, Perpustakaan Bank Indonesia, dan Het Warenhuis, masing-masing memiliki nilai historis yang kuat dan relevan dengan pelajaran bahasa dan budaya.
Baca Juga: Sugiat Santoso Siap Dukung Program Kuliah di Lapas yang Diinisiasi UMSU
“Melalui darmawisata ini, kami ingin mahasiswa tidak hanya bisa berbahasa Indonesia, tapi juga memahami konteks budaya di balik kata-kata yang mereka pelajari,” ujar Ketua Lembaga BIPA UMSU Dr Cut Novita Srikandi, Jumat (25/4/2025).
Selama kunjungan, para mahasiswa tampak antusias berdialog dengan masyarakat setempat, mencatat kosakata baru, dan mengamati langsung kekayaan budaya lokal.
Di Pasar Petisah, mereka mencoba tawar-menawar sambil belajar istilah belanja dalam Bahasa Indonesia. Sementara itu, di Istana Maimun dan Masjid Raya, mereka mendengarkan penjelasan tentang sejarah dan nilai-nilai budaya Melayu Deli.
Mizan, mahasiswa asal Sudan mengaku kegiatan ini memberi hal baru bagi dirinya.
Baca Juga: Pemkab Deli Serdang Dukung Pembangunan Kampus Terpadu UMSU
‘’Ini tidak kami dapatkan di kelas. Saya merasa lebih dekat dengan Indonesia setelah melihat sendiri budaya dan sejarahnya. Ini membantu saya memahami Bahasa Indonesia dengan lebih baik,” ujarnya.
Program darmawisata ini menjadi salah satu bentuk komitmen BIPA UMSU dalam menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan, aplikatif, dan bermakna.
Lebih dari sekadar belajar bahasa, mahasiswa internasional diajak menyelami kehidupan masyarakat lokal yang kaya nilai, cerita, dan keberagaman.
(zie/Nusantaraterkini.co)
