Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Mengenal Penangkaran Buaya Asam Kumbang yang Berdiri Sejak 1959

Editor :  Fadli Tara
Reporter :  Fadli Tara
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Pengunjung memberi makan buaya-buaya di taman Asam Kumbang, Minggu (19/5/2024).

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Mendengar kata Asam Kumbang, tentunya warga Kota Medan dan sekitarnya tak asing.

Ya tempat penangkaran buaya ata Asam Kumbang ini menjadi objek wisata yang legendaris khususnya di Kota Medan.

Baca Juga : Seekor Buaya Serang Lansia, BKSDA Sumsel Turun Tangan di Sematang Borang

Wisata bernuansa edukasi ini terletak  di Jalan Bunga Raya II, Kelurahan Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang.

Baca Juga : Detik-detik TNI dan Polri Tembaki Buaya yang Telan IRT di Nias Selatan

Asam Kumbang sendiri sudah berdiri selama 60 tahun atau sejak 1959.

Dari informasi yang dihimpun, taman Buaya Asam Kumbang, memiliki luas 2 hektare dan dibangun oleh seseorang bernama Lo Kie Yoe alias Lo Than Muk.

Baca Juga : Penangkaran Buaya Asam Kumbang, Destinasi Edukasi dan Rekreasi yang Semakin Diminati

Pemiliknya merupakan pria kelahiran Aceh Timur, 11 Maret 1928 yang tinggal di Medan dan hobi memelihara binatang terutama buaya.

Baca Juga : Warga Asam Kumbang Geger, Pencarian Remaja Hanyut di Sei Belawan Berakhir Duka

Than Muk mengawali hobinya dengan memelihara 12 ekor buaya yang didapat dari sungai dan rawa-rawa di sekitar Kota Medan.

Saat itu, populasi buaya masih banyak dan belum berstatus dilindungi.

Sementara Kota Medan sendiri belum dipadati penduduk dan bangunan.

Lalu pada 1984, Lo Than Muk terpilih sebagai seorang Perintis Lingkungan Terbaik Tingkat Sumatera Utara.

 Di tahun yang sama, Than Muk menerima rombongan turis kapal pesiar Columbus yang mendarat di Pelabuhan Belawan.

Saat itu pula kantor wilayah pariwisata Kota Medan meminta Than Muk membuka peternakan buayanya menjadi objek wisata.

Lo Than Muk yang merupakan pemilik telah meninggal pada 25 September 2008 dalam usia 80 tahun.

Usaha taman buaya kemudian diteruskan oleh istrinya, Lim Hui Chu

Sementara sejauh ini Buaya di Asam Kumbang diperkirakan mencapai 2800 ekor jenis buaya muara.

Buaya-buaya itu ditempatkan dalam 78 bak semen.

Mayoritas bak ukuran kecil dan sedang yang diisi buaya-buaya berusia kurang dari 10 tahun.

Setiap bak berisi buaya dengan umur berbeda. Adapun bak-bak berukuran besar dihuni buaya berusia 10, 11, 12, 15, 16, 28, dan 46 tahun.

Khusus buaya berumur 28 dan 46 tahun ditempatkan masing-masing sendirian di bak.

Ada seekor buaya berusia 28 tahun yang ekornya buntung, makanya disebut buaya buntung.

Selain di bak, banyak buaya berusia lebih dari 20 tahun yang menghuni telaga buatan seluas satu hektare dan sedalam tiga meter.

Telaga ini dikelilingi tembok tebal setinggi 4 meter.

Antara area pengunjung dan telaga disekat pagar tembok semeter dan berteralis besi panjang.

Buaya jantan dewasa memiliki panjang rata-rata antara tiga sampai 5 meter.

Sedangkan buaya betina dewasa berukuran rerata 2,5 sampai 3 meter.

Di dalam telaga hijau itu pula diperkirakan ada buaya yang berumur 60-an tahun.

Dulu pernah ada buaya berusia 78 tahun.

Untuk tiket masuk ke taman buaya ini dipatok Rp 20 ribu per orang.

Pengunjung bebas berada di dalam taman selama masih dalam jam operasional, yakni pukul 09.00 sampai 18.00 WIB.

Saat ini Asam Kumbang sedang direnovasi dengan konsep yang lebih menarik dan tingkat keamanan jauh lebih sefty.

Asam Kumbang menjadi destinasi wisata kota yang cocok untuk menghabiskan waktu akhir pekan.

Dari amatan, pengunjung Asam Kumbang sendiri tak hanya wisatawan lokal, melainkan wisatawan mancanegara.

(mft/Nusantaraterkini.co)