Nusantaraterkini.co, MEDAN - Melewati Jalan tanah bebatuan, di Jalan Bunga Rampe IV, Simalingkar B, sekitar 500 meter dari Kebun Binatang Simalingkar, tampak sebuah gapura bertuliskan Taman Makam Muslim.
Meskipun saat ini tak lagi hanya diperuntukkan bagi masyarakat muslim saja, tapi juga agama lain yang pada saat itu menjadi korban Covid-19.
Amatan Nusantaraterkini.co, pada Minggu (22/6/2025) sore, ketika melewati gapura, terlihat seperti lembah dan bebukitan yang dikelilingi ladang dan pepohonan sawit, terasa dingin dan sejuk.
BACA JUGA: Tim Peneliti Israel Sebut Protein Virus Covid-19 Picu Serangan Imun terhadap Sel Sehat
Seperti diketahui lokasi pemakaman ini menjadi saksi tempat keganasan Covid-19 pada Tahun 2020, di mana lokasi ini menyediakan lahan untuk mengebumikan khusus pasien corona virus yang meninggal dunia.
Penyediaan lahan ini dilakukan dahulu pada Tahun 2020 sebagai antisipasi apabila terjadinya penolakan dari warga atas jenazah positif Covid-19 yang hendak dimakamkan di pemakaman umum.
Kurnia (26), salah satu anak dari ibu korban keganasan Covid-19, mengatakan, bahwa ibunya dikuburkan ditempat tersebut.
"Tempat ini jadi saksi keganasan Covid-19, sudah lima tahun berlalu, dan pada saat itu ibu saya dikuburkan disini pada pukul 03.00 WIB dini hari, dan pada saat itu saya masih terisolasi di rumah sakit dengan sakit yang sama," ucapnya saat ditemui di TPU Simalingkar B, pada Minggu (22/6/2025).
Ia menambahkan bahwa pada Tahun 2020, pemakaman tersebut bertambah terus hingga memenuhi semua lahan.
"Pada saat itu Tahun 2020 setelah ibu saya dimakamkan di situ, setiap hari nambah terus, karena pada saat itu saya rutin beberapa hari sekali mengunjungi, karena saya merasa kehilangan sekali, saya tidak menyangka ia menjadi korban Covid-19 dan saya pun juga terkena," jelasnya sambil mengeluarkan air mata.
BACA JUGA: Kasus Covid-19 Melonjak di Asia, DPR: Jangan Sampai Kita Gagap
Ia mengatakan, bahwa ibunya harus dibungkus hingga berkali-kali dengan alasan agar tidak tersebar virus Covid-19 tersebut.
"Kami sama-sama diisolasi bersama di rumah sakit yang sama, kami berjanji akan keluar sama-sama, namun Tuhan berkata lain, dia mungkin tidak sanggup lagi. Dan saya bersyukur bisa lakukan fardhu kifayah, namun saya sedikit sedih karena harus dibungkus beberapa kali hingga dipeti," tuturnya sambil mengusap air mata.
Pemakaman Covid-19 ini terletak di kawasan Simalingkar B, Medan Tuntungan. Makam-makam di sana ukurannya lebih besar dan panjang dari makam pada umumnya. Karena semua jenazah harus dimasukkan ke dalam peti dan dibungkus plastik untuk menghindari menyebarnya virus.
(Cw2/Nusantaraterkini.co)
