Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Minyak Dunia Melonjak Tajam, Konflik Iran Picu Harga Brent Tembus USD 107 per Barel

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Asap membubung ke langit setelah ledakan terdengar di Manama, Bahrain, Sabtu (28/2/2026). (Foto: Stringer/REUTERS)

Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Harga minyak mentah global kembali mencatat lonjakan signifikan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Serangan yang melibatkan Iran terhadap sejumlah fasilitas energi memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan, sehingga mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.

Pada perdagangan Rabu (18/3/2026), minyak jenis Brent ditutup menguat 3,8 persen di level USD 107,38 per barel. Kenaikan berlanjut pada sesi setelah penutupan dengan lonjakan tambahan sebesar 5,6 persen. Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), naik tipis 0,1 persen ke USD 96,32 per barel sebelum kembali menguat hingga 4 persen dalam perdagangan lanjutan.

Selisih harga antara WTI dan Brent kini melebar ke titik tertinggi dalam lebih dari satu dekade. Kondisi ini dipicu oleh meningkatnya pasokan minyak di AS dari cadangan strategis, serta biaya distribusi yang semakin tinggi. Di sisi lain, harga Brent terdorong naik akibat meningkatnya risiko gangguan produksi di Timur Tengah.

Baca Juga : Harga Minyak Dunia Melemah Usai Ketegangan Iran di Selat Hormuz Mulai Mereda

Dampak serangan juga dirasakan di Qatar. Fasilitas energi di kawasan industri Ras Laffan dilaporkan mengalami kerusakan cukup parah akibat serangan rudal. Sementara itu, Arab Saudi mengklaim berhasil menggagalkan sejumlah serangan rudal balistik dan drone yang mengarah ke instalasi energi strategis mereka.

Pemerintah Iran bahkan disebut telah mengeluarkan peringatan evakuasi terhadap beberapa fasilitas energi di negara-negara Teluk, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar. Langkah ini memperkuat kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas.

Ketegangan ini dipicu oleh serangan terhadap ladang gas South Pars di Iran, yang menurut sejumlah laporan diduga melibatkan Israel dengan dukungan Amerika Serikat. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari kedua negara tersebut.

Baca Juga : Harga Bensin California Tembus 6 Dolar AS, Rekor Tertinggi Nasional dalam 4 Tahun

Analis pasar energi menilai, setiap serangan yang menyasar infrastruktur energi akan langsung berdampak pada kenaikan harga minyak dan gas global. Apalagi, jalur distribusi vital seperti Selat Hormuz turut terganggu, yang selama ini menjadi jalur sekitar 20 persen pasokan energi dunia.

Diperkirakan, gangguan produksi di kawasan Timur Tengah mencapai 7 hingga 10 juta barel per hari, atau setara 10 persen dari kebutuhan global.

Merespons kondisi tersebut, pemerintahan Presiden Donald Trump memberikan kelonggaran sementara terhadap aturan pelayaran domestik guna memperlancar distribusi energi. Selain itu, pembatasan emisi bahan bakar juga direncanakan untuk dilonggarkan demi menekan lonjakan harga.

Baca Juga : Harapan Negosiasi Iran-AS Tekan Harga Minyak

Meski demikian, pelaku pasar menilai langkah tersebut belum cukup kuat untuk menahan kenaikan harga energi di pasar global.

Di sisi lain, pasokan tambahan mulai datang dari Irak yang kembali meningkatkan ekspor minyak melalui jalur pipa ke Turki. Negara lain seperti Libya juga berupaya menjaga produksi meski menghadapi kendala teknis.

Namun demikian, peningkatan pasokan tersebut belum mampu sepenuhnya menutup kekhawatiran pasar terhadap risiko konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Baca Juga : Selat Hormuz Dibuka Kembali, Harga Minyak Mentah Dunia Langsung Anjlok 10 Persen

(Dra/nusantaraterkini.co).