Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Ombudsman Sumut Akui Terima Laporan Eks Inspektorat Madina Terkait Demosi jadi Staf Pelaksana

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Muhammad Reza
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Kepala Perwakilan Ombudsman Provinsi Sumatera Utara, Herdensi Adnin. (Foto: dok istimewa)

Nusantaraterkini.co, MADINA - Ketua Ombudsman RI Perwakilan Sumut Herdensi Adnin membenarkan pihaknya telah menerima laporan Rahmad Daulay, mantan Kepala Inspektorat Mandailing Natal yang didemosi jadi staf pelaksana.

“Kami menerima laporan atas nama Rahmad Daulay, mantan Inspektur Madina,” kata Herdensi Adnin, Senin (27/4/2026) sore. 

Baca Juga : Status PNS Menggantung, Dokter Spesialis Beasiswa Kemenkes Gugat Pemkab Humbahas ke Ombudsman

Laporan itu, terkait SK Bupati Madina No. 800/0961/K/2025 tanggal 29 Oktober 2025. Rahmad dicopot dari jabatan dan diturunkan jadi pelaksana selama 12 bulan.

Baca Juga : Ombudsman Sumut Peringatkan Sekolah: Jangan Ada Pungli Berbalut Biaya Perpisahan Siswa

Seminggu kemudian menyusul SK pembebasan sementara No. 820/1019/K/2025. Herdensi menyebut pihaknya juga langsung bergerak.

“Kami sudah meminta keterangan dari para pihak, khususnya terlapor Pemkab Madina. Kalau terkait hasilnya belum keluar,” ujarnya lewat pesan singkat.

Baca Juga : Inspektorat Madina Periksa Saksi Terkait Dugaan Pengrusakan Aset oleh Kades Jambur Baru

Sebelumnya, kepada wartawan Senin (27/4/2026), Rahmad Daulay membeberkan kronologi dan alasan gugatannya. Usai didemosi, dia sempat ajukan keberatan 17 November 2025. Namun ditolak Bupati lewat SK 11 Desember 2025.

Baca Juga : Kadis PMD Madina akan Tindaklanjuti Hasil Rekomendasi Inspektorat Terkait Kades Jambur Baru

Tak terima, Rahmad lapor ke Ombudsman Sumut 17 Januari 2026 dan BKN 2 Maret 2026. Ada 4 poin yang dipersoalkan Rahmad, antara lain, tim pemeriksa tak lengkap, karena PP 94/2021 wajibkan tim berisi atasan langsung, unsur pengawasan, dan kepegawaian.

Kemudian, abaikan faktor meringankan lantaran sanksi terbit tanpa menimbang latar belakang. Biaya Operasional Pengawasan sudah ada sejak 2020 lewat Perbup 45/2020 untuk rapat MCP KPK 2019 dan Rakornas BPKP 2020. Semua temuan BPK juga sudah dikembalikan lunas.

Selanjutnya, salah terapkan aturan, karena temuan BPK harusnya diselesaikan lewat ganti rugi sesuai Per BPK 3/2024 dan Permendagri 133/2018, bukan sanksi disiplin PP 94/2021. Hukuman berat hanya untuk pelanggaran berdampak nasional seperti bocorkan rahasia negara.

Terakhir, tak ada restu BKN, demosi wajib lewat aplikasi I-Mut SIASN dan kantongi Pertimbangan Teknis Kepala BKN sesuai SE BKN 7/2024. SK Bupati tak menyebut itu.

Terkait laporannya ke Ombudsman, Rahmad pun meminta agar Bupati Madina melaksanakan tuntutannya, berupa Batalkan SK Bupati No. 800/0961/K/2025 dan No. 820/1019/K/2025 dan selesaikan sisa temuan BPK soal jasa audit pakai aturan ganti rugi.

(mra/nusantaraterkini.co)