Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Pakar Komunikasi Ingatkan Bahaya Disinformasi di Era Digitalisasi Media

Reporter :  Riski Aulia
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Dr Iskandar Zulkarnain MSi mengingatkan pers untuk tetap kritis dan tidak membiarkan disinformasi merusak fungsi pengawasan publik. (foto: riski aulia/nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.coMEDAN-Pakar Komunikasi Dr Iskandar Zulkarnaen, MSI mengingatkan bahasa disinformasi di era digital saat ini. Menurutnya, disinformasi bukan sekadar salah ketik atau keliru informasi biasa, melainkan sebuah kebohongan yang sengaja diciptakan dan disebarluaskan untuk tujuan tertentu.

"Ada dua motivasi utama di balik penyebaran berita menyesatkan ini, yakni uang dan kekuasaan," ungkap Iskandar Zulkarnaen, saat menjadi pembicara dalam diskusi peringatan Hari Pers Sedunia atau World Press Freedom Day (WPFD) 2026, yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan, di Medan, Selasa (5/5/2026).

Baca Juga : Independensi Terancam, Pakar Soroti Dampak Aliran Dana Asing di Sektor Riset dan Media

Iskandar mengakui, di era saat ini informasi mengalir begitu deras hingga sulit dibendung. Dalam dunia internet, sebutnya, muncul istilah komodifikasi informasi, di mana isu-isu yang sebenarnya tidak penting seperti gosip atau kabar burung sengaja dikemas agar menjadi viral. "Tujuannya sederhana, yaitu demi mendapatkan keuntungan materi atau "cuan". Di sisi lain, disinformasi juga sering dijadikan alat politik untuk menggiring opini publik demi kepentingan pihak tertentu," lanjutnya.

Baca Juga : Kemenag Tegaskan Isu Dana Kas Masjid Dikelola Pemerintah Adalah Hoaks

Kondisi ini, lanjutnya, diperparah dengan adanya sistem algoritma di media sosial. Menurutnya, algoritma ini bekerja dengan cara menyuguhkan konten yang sesuai dengan kesukaan kita. Akibatnya, jika sebuah berita palsu dianggap menarik dan banyak disukai, sistem akan menyebarkannya secara otomatis tanpa peduli apakah berita itu benar atau tidak. 

"Strategi viralkan dulu, urusan benar belakangan pun menjadi senjata yang ampuh bagi para penyebar disinformasi," sebutnya.

Baca Juga : Ancaman Monopoli AI di Industri Media, KPPU dan AMSI Siapkan Langkah Strategis

Dengan fenomena itu, Iskandar mengingatkan, pers dan media seharusnya berfungsi sebagai pengawas atau watchdog bagi kekuasaan. Kekuasaan, kata dia, memiliki sifat dasar yang cenderung menyimpang jika tidak diawasi. Namun, ketika ruang informasi justru dipenuhi oleh berita palsu yang sengaja dibuat demi keuntungan pribadi atau kelompok, fungsi pengawasan tersebut menjadi terganggu. 

Baca Juga : AJI Medan dan BOPM WACANA Diskusi Soal Kebebasan Pers

"Masyarakat kini dituntut untuk lebih cerdas dan kritis dalam memilah informasi agar tidak menjadi korban dari manipulasi pihak-pihak yang hanya mengejar kepentingan pribadi di balik layar," pungkasnya.

(Cw5/Nusantaraterkini.co)

Baca Juga : AJI Tolak Anugerah Dewan Pers 2025 karena Tidak Transparan