Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Peran Bahasa Daerah dalam Mempertahankan Identitas Budaya di Era Globalisasi

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi. (Foto: istockphoto)

Oleh: Febrianty Manurung & Chani Marua Halma Sinaga 

Di era globalisasi, penggunaan (bahasa daerah) semakin tergerus oleh dominasi bahasa nasional dan internasional. Fenomena ini dipicu oleh berbagai faktor seperti urbanisasi, pendidikan formal yang lebih mengutamakan bahasa nasional, serta arus teknologi dan media sosial yang lebih banyak menggunakan bahasa global seperti (Bahasa Inggris).

Jika dibiarkan, hal ini dapat mengancam eksistensi bahasa daerah dan berujung pada hilangnya identitas budaya yang melekat pada masyarakat penuturnya. Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga wadah bagi ekspresi budaya, nilainilai kearifan lokal, serta sejarah suatu komunitas. 

Fishman (1991) dalam bukunya Reversing Language Shift menegaskan bahwa bahasa merupakan bagian integral dari identitas kelompok, sehingga hilangnya bahasa daerah berarti hilangnya sebagian dari kebudayaan masyarakat  tersebut. Dalam konteks Indonesia, bahasa daerah seperti (Jawa), (Sunda), dan (Bugis) tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi sehari-hari tetapi juga menyimpan filosofi dan norma sosial yang diwariskan turun-temurun.

Baca Juga: Dorong Pelestarian Bahasa Daerah untuk Pertahankan Identitas dan Budaya Bangsa

Penelitian yang dilakukan oleh Margaret Mead menunjukkan bahwa bahasa daerah memainkan peran penting dalam menyimpan pengetahuan praktis tentang lingkungan, seperti pengetahuan tentang flora dan fauna lokal, serta pertanian tradisional. Bahasa menjadi sangat penting dalam menyampaikan pengetahuan yang spesifik terhadap ekosistem dan lingkungan sosial yang sering kali tidak dapat dijelaskan melalui bahasa nasional maupun global.

Salah satu upaya untuk mempertahankan bahasa daerah adalah melalui pendidikan dan kebijakan pemerintah. Dalam penelitian yang dimuat dalam jurnal International Journal of Bilingual Education and Bilingualism, penggunaan bahasa daerah di sekolah dasar terbukti meningkatkan kesadaran identitas budaya pada anak-anak. Hal ini sejalan dengan kebijakan pemerintah Indonesia yang mencantumkan muatan lokal bahasa daerah dalam kurikulum pendidikan.

Namun, realisasinya masih mengalami berbagai tantangan, seperti kurangnya tenaga pengajar yang kompeten dalam bahasa daerah serta minimnya bahan ajar yang memadai. Selain pendidikan formal, media sosial dan teknologi juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana pelestarian bahasa daerah. Contohnya, banyak kreator konten yang mulai menggunakan bahasa daerah dalam video YouTube, podcast, dan platform media lainnya.

Baca Juga: Komite III DPD Dorong RUU Bahasa Daerah Jadi Prioritas Prolegnas

Hal ini tidak hanya membantu memperkenalkan bahasa daerah kepada generasi muda tetapi juga menjadikannya  lebih relevan dalam kehidupan modern. Namun, dalam realitasnya, bahasa daerah kini menghadapi ancaman besar akibat pengaruh globalisasi serta dominasi bahasa nasional dan internasional.

Menurut ahli bahasa David Crystal, banyak bahasa daerah terancam punah karena berkurangnya jumlah penutur serta minimnya generasi muda yang mempelajarinya. Kondisi ini berdampak signifikan pada hilangnya warisan budaya serta pengetahuan berharga yang telah diwariskan secara turuntemurun.

Dalam konteks masyarakat, penggunaan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari juga menjadi kunci utama dalam mempertahankan eksistensinya. Menurut penelitian dalam Journal of Multilingual and Multicultural Development, komunitas yang aktif menggunakan bahasa ibu dalam berbagai aspek kehidupan cenderung lebih berhasil mempertahankan identitas budayanya dibandingkan dengan komunitas yang mengabaikannya.

Oleh karena itu, peran bahasa daerah dalam mempertahankan identitas budaya tidak boleh diabaikan. Pemerintah, akademisi, dan masyarakat harus berkolaborasi untuk mengembangkan strategi pelestarian bahasa daerah agar tidak terkikis oleh arus globalisasi. Sebab, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan jati diri dan kebanggaan suatu bangsa. (*)

Penulis adalah Mahasiswa Antropologi Unimed Angkatan 2022