Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Perang Israel vs Iran Memicu Harga Minyak Mentah Melonjak Tajam

Editor :  Team
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
harga minyak mentah melonjak tajam mencatat kenaikan harian terbesar sejak 2022, setelah Israel dan Iran saling melancarkan serangan udara.

Nusantaraterkini.co, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (13/6/2025) harga minyak mentah melonjak tajam mencatat kenaikan harian terbesar sejak 2022, setelah Israel dan Iran saling melancarkan serangan udara.

Ketegangan ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan minyak global dari kawasan Timur Tengah.

Melansir Reuters, harga minyak Brent ditutup naik 7,02% ke level US$74,23 per barel, setelah sempat terbang lebih dari 13% ke intraday high US$78,50, tertinggi sejak 27 Januari.

Baca Juga : Krisis Energi Global, DPR Soroti Keberhasilan Pemerintah Tahan Harga BBM

Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 7,62% ke US$72,98 per barel, sempat menyentuh US$77,62, tertinggi sejak 21 Januari.

Kedua benchmark mencatat lonjakan intraday terbesar sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, yang juga kala itu memicu gejolak di pasar energi global.

Potensi Gangguan Jalur Strategis

Baca Juga : Selat Hormuz Dibuka Kembali, Harga Minyak Mentah Dunia Langsung Anjlok 10 Persen

Israel mengklaim telah menghantam fasilitas nuklir, pabrik rudal balistik, dan posisi militer Iran dalam operasi yang diklaim bertujuan mencegah pengembangan senjata nuklir oleh Teheran.

Iran bersumpah akan membalas secara keras. Sesaat setelah penutupan perdagangan, laporan media menyebutkan rudal Iran menghantam sejumlah gedung di Tel Aviv, dan ledakan terdengar di Israel selatan.

Ketegangan ini menambah kekhawatiran pasar akan disrupsi pasokan dari Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% konsumsi minyak dunia atau sekitar 18–19 juta barel per hari.

Negara-negara seperti Arab Saudi, Iran, Irak, dan Kuwait sangat bergantung pada selat ini untuk mengekspor minyak mereka.

"Tindakan Israel sejauh ini belum menyasar infrastruktur energi Iran, termasuk Pulau Kharg yang menjadi titik ekspor 90% minyak Iran," ujar Ben Hoff, Kepala Riset Komoditas di Societe Generale.

"Namun, eskalasi bisa saja berujung pada logika ‘energy-for-energy’, yakni pembalasan terhadap infrastruktur energi lawan."

Iran, anggota OPEC, memproduksi sekitar 3,3 juta barel per hari dan mengekspor lebih dari 2 juta bph minyak dan bahan bakar.

Meski pasokan cadangan OPEC+ cukup besar untuk mengimbangi potensi gangguan, pasar tetap waspada terhadap risiko disrupsi yang cepat dan tidak terduga.

(wiwin/nusantaraterkini.co)