Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Petani Kopi Sidikalang Hadapi Fluktuasi Harga di Tengah Tantangan Cuaca dan Hama

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Elvirida Lady Angel
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Ilustrasi hasil panen kopi. (Foto: istimewa)

Nusantaraterkini.co, SIDIKALANG - Di tengah berbagai rintangan yang dihadapi oleh para petani kopi, petani kopi asal Sidikalang Pantoni (54) membagikan pengalamannya mengenai cara perawatan kopi serta tantangan yang timbul akibat perubahan iklim dan fluktuasi harga

“Kopi kami pernah mencapai harga tinggi, kopi maju seharga Rp60 ribu per kilogram, sementara kopi Ateng 35 ribu. Namun, ada masa ketika harga turun drastis, kopi maju hanya dihargai Rp35 ribu dan kopi Ateng Rp15 ribu,” ungkapnya kepada Nusantaraterkini.co, Kamis (26/9/2024)

Baca Juga : Kisah UD IDA dalam Mempertahankan Kualitas Kopi Sidikalang di Tengah Perubahan Pasar

Pantoni mengungkapkan, bahwa kopi membutuhkan perawatan yang tidak mudah. Tanaman kopi mulai berbuah dalam tiga tahun, dan hasil maksimal baru terlihat di tahun kelima.

Baca Juga : Antisipasi El Nino, Firman Soebagyo Dorong Pengembangan Padi Gogo

"Perawatannya memerlukan penggunaan pupuk Mutiara 16, membersihkan area tanam, dan yang terpenting, tidak boleh disemprot sembarangan. Jika disemprot secara tidak tepat, hasilnya akan berkurang," jelasnya.

Tantangan lain yang dihadapi adalah iklim yang memengaruhi pertumbuhan kopi. Iklim yang tidak menentu membuat bunga kopi sering berjatuhan.

Baca Juga : Cuaca Ekstrem Global Kian Menggila, DPR Soroti Lemahnya Pengelolaan SDA dan Mitigasi Bencana

"Hujan adalah iklim yang paling baik bagi kopi. Kami juga harus menyemprot bunga dengan obat-obatan untuk membunuh serangga, dan memupuk tanah agar tanaman tetap subur,” tambahnya.

Selain faktor cuaca, proses pemeliharaan kopi pun memakan biaya besar. Pantoni mengaku harus memupuk tanaman setiap bulan, yang membuat perawatan kopi semakin berat secara finansial.

"Biaya sekali memupuk tidak sedikit, ditambah lagi proses merawatnya yang rumit," kata Pantoni.

Kendala lain yang dihadapi adalah hama. Ada hama seperti sarindan, tumbuhan yang melilit batang kopi dan lumut yang sangat mematikan jika tidak segera dibersihkan.

"Perawatan intensif diperlukan agar tanaman kopi tetap produktif,” ujarnya.

Selain itu proses panen juga membutuhkan kerja keras. Bahkan setelah kopi dipanen, bijinya harus digiling, dijemur hingga kering, dibersihkan atau dikupas supaya biji terpisah dari kulitnya.

"Biji yang sudah keras kemudian dijual ke agen kopi,” jelas Pantoni tentang tahapan pemrosesan.

“Kami sangat bergantung pada harga pasar, dan ketika harga turun, penghasilan kami juga turun drastis. Semoga dengan perawatan yang baik dan dukungan dari pemerintah, harga kopi bisa stabil di angka yang menguntungkan,” pungkasnya.

(Cw9/Nusantaraterkini.co)