Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Ramadan Sepi Pelanggan, Tukang Tambal Ban Pantura Pemalang Bertahan Menanti Arus Mudik

Editor :  hendra
Reporter :  Ragil
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
kondisi sepi terlihat dari beberapa lapak Tanbal ban di jalur Pantura Pemalang. (Foto: Ragil/nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, PEMALANG – Suasana berbeda dirasakan para tukang tambal ban di jalur Pantura Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, selama Ramadan 2026. Jika biasanya deru kendaraan besar mendatangkan rezeki, kini aktivitas mereka justru melambat, terutama pada awal hingga pertengahan bulan puasa.

Sepinya kendaraan di jalur arteri Pantai Utara tak lepas dari kebijakan pengalihan arus ke jalan tol, termasuk Tol Trans Jawa. Banyak kendaraan pribadi maupun truk besar memilih melintas di tol demi efisiensi waktu dan menghindari kepadatan di jalur Pantura, khususnya dari wilayah Batang hingga Pemalang.

Bagi Slamet (40), warga Sirangkang, Kecamatan Petarukan, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri. Selama 14 tahun menggeluti usaha tambal ban di jalur Pantura, ia merasakan perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Baca Juga : Arab Saudi Pantau Hilal 18 Maret, Penentuan Idul Fitri 1447 H Menunggu Hasil Rukyat

“Dulu dari tiga lokasi tambal ban yang saya kelola, penghasilan bersih bisa Rp500 ribu sampai Rp700 ribu per hari. Sekarang Rp400 ribu saja sudah harus dipotong biaya operasional,” ujarnya, Senin (2/3/2026).

Menurutnya, pembatasan operasional truk sumbu tiga di jalur arteri turut berdampak pada penurunan pelanggan. Kendaraan berat yang dahulu menjadi pelanggan tetap kini lebih banyak diarahkan masuk tol atau dibatasi jam operasinya.

Meski begitu, Slamet dan rekan-rekannya tetap membuka bengkel 24 jam. Mereka bertahan dengan harapan lonjakan kendaraan akan terjadi menjelang Lebaran, saat arus mudik mulai memadati Pantura.

Baca Juga : Berbagi di Bulan Ramadan, Sat Narkoba Polresta Deli Serdang Berikan Tali Asih ke Rumah Yatim Riyadhil Jannah

Pada hari-hari awal puasa, volume kendaraan memang cenderung menurun. Aktivitas biasanya baru menggeliat mendekati puncak mudik. Di sisi lain, kondisi jalan Pantura yang di beberapa titik masih rusak kerap menyebabkan ban kendaraan pecah, terutama saat hujan turun. Situasi ini membuat jasa tambal ban tetap dibutuhkan, meski tidak seramai hari biasa.

Bagi para tukang tambal ban, Ramadan tahun ini menjadi masa bertahan. Mereka menggantungkan harapan pada momen mudik Lebaran sebagai penyelamat pemasukan setelah sepinya pelanggan di awal bulan suci.

(Rgl/nusantaraterkini.co).