Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

RI Jadi Negara Spam Call Nomor 2 Dunia, Ini Kata Menkomdigi

Editor :  hendra
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Meutya Hafid memberikan sambutan pada acara Safer Internet Day 2025: Bermitra Bersama untuk Meningkatkan Keamanan Digital bagi Masyarakat Indonesia di Kantor Komdigi, Jakarta, Selasa (18/2/2025). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

nusantaraterkini.co, JAKARTA - Indonesia menjadi negara spam call terbanyak nomor dua di dunia. Banyaknya spam call ini ditanggapi langsung oleh Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid.

Meutya Hafid mengatakan, nantinya Indonesia akan mengatur ulang penggunaan SIM card. Saat ini, lanjut dia, terdapat sekitar 315 juta SIM card yang aktif, padahal populasi Indonesia hanya sekitar 280 juta jiwa.

"Di Indonesia ini ada 315 juta SIM card yang beredar dengan angka populasi sekarang kurang lebih 280 juta. Nah selisihnya itu dipakai apa saja, gitu? Bisa jadi memang ada satu orang yang memiliki beberapa, tapi kan ini perlu kita dalami," kata Meutya Hafid di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (15/5/2025).

Baca Juga : Habib Syarief Minta Pemerintah Terbitkan Aturan Turunan UU PPRT

Karenanya, Meutya Hafid memohon dukungan masyarakat. Ia menjelaskan bahwa hal itu bukan untuk menyulitkan masyarakat, tetapi untuk mengatur agar tidak terjadi hal serupa ke depannya.

"Jadi mohon dukungan, jadi ketika kita mengatur itu bukan ingin menyulitkan masyarakat, di antaranya kita meminta kepada operator untuk menegakkan bahwa per-NIK itu maksimal tiga, itu harus dilakukan pemutakhiran data oleh operator," ucap dia.

Menurutnya, fenomena ini menjadi salah satu alasan pemerintah ingin menata ulang sistem registrasi kartu SIM agar lebih tertib dan aman bagi masyarakat.

Baca Juga : Komisi X Apresiasi Penurunan Angka Putus Sekolah, Pemerintah Diminta Tak Cepat Puas

Meutya mendorong agar masyarakat melakukan migrasi dari SIM card ke e-SIM karena hal itu merupakan salah satu pengamanan data.

"Karena ada data biometrik yang dilakukan untuk memastikan bahwa orang ini benar dengan NIK yang tepat, gitu ya. Jadi tidak ada atau meminimalisir pencurian data. Jadi mungkin itu kita akan melakukan tata kelola SIM card," tandas dia.

Sebelumnya, laporan dari perusahaan keamanan digital yang berbasis di Amerika Serikat, Global Call Threat Report pada 2023, sebanyak 56,5 persen panggilan yang diterima di Indonesia adalah spam.

Angka tersebut membuat Indonesia menjadi negara kedua dengan tingkat spam tertinggi di dunia, hanya terpaut tipis dari Chile (57%).

Di bawah Indonesia terdapat Argentina (56%), Hong Kong (56%), dan Brasil (46%).

Spam didefinisikan sebagai panggilan yang tidak diinginkan, termasuk upaya penipuan dan gangguan.

Studi tersebut mencatat bahwa secara global, seperempat dari seluruh panggilan tak dikenal yang diamati tergolong spam.

(Dra/nusantaraterkini.co).