Nusantaraterkini.co, MEDAN – Malam baru saja reda dari hujan ketika Ardiansyah Tanjung memetik gitar di teras kedai kopinya, Jumat (26/9/2025).
Sesekali ia menghentakkan kaki ke lantai kayu, mengisi jeda di antara petikan. Suaranya berat, seakan memantul di ruang kecil bernama Rumah Kito, kedai sederhana di Gang Rambung, Jalan Halat, Kecamatan Medan Area.
Bagi Tanjung, musik bukan sekadar hiburan. Ia vokalis band reggae Simpoel, kelompok yang sering tampil di panggung kolektif sejak ia masih mahasiswa. Nada-nada yang ia nyanyikan lahir dari kegelisahan sesuatu yang sudah ia temui sejak masa kuliah.
Baca Juga : Bukan Soal Harganya, Ini Alasan Anak Medan Betah Nongkrong di Rumah Kito
Tanjung memulai pendidikan tinggi di Institut Teknologi Medan (ITM). Ia aktif di organisasi mahasiswa, termasuk pencinta alam. Dari situ karakternya terbentuk: belajar hidup keras, peka pada isu sosial, dan terbiasa bersuara. Tapi langkahnya terhenti ketika ITM harus tutup.
“Saya akhirnya lulus di kampus lain,” katanya.
Alih-alih jatuh, peralihan itu membuka pintu baru. Ia lebih dekat dengan dunia seni dan aktivisme. “Kalau dulu organisasi mahasiswa jadi ruang belajar kritis, sekarang Rumah Kito dan musik adalah ruang belajar bersama,” ujarnya.
Rumah Kito lahir dari kegelisahan itu. Kata Kito dalam bahasa pesisir Tapanuli Tengah, kampung halamannya, berarti kita. Ia ingin ruang itu bukan hanya untuk dirinya, melainkan untuk siapa saja seniman, aktivis, mahasiswa, atau perantau yang butuh tempat singgah.
Di sana, diskusi kecil muncul tanpa direncanakan. Tema sosial, seni, atau pengalaman personal bercampur dengan musik dan cangkir kopi. Suasana egaliter jadi nyawa.
"Kalau tidak ada ruang seperti ini, kita hanya sibuk mengejar urusan pribadi. Padahal manusia butuh tempat untuk saling menguatkan,” kata Tanjung.
Kini hampir setiap malam, Rumah Kito tak pernah benar-benar sepi. Kadang riuh dengan jamming musik, kadang tenang dengan percakapan ringan. Tapi di balik itu, selalu ada semangat kolektif yang ia rawat.
Perjalanan Tanjung dari kampus yang tutup, panggung musik, hingga kedai kopi mencerminkan satu hal, kegelisahan bisa menjadi bahan bakar untuk membangun ruang baru. Dan bagi Tanjung, Rumah Kito adalah caranya melawan keterasingan kota besar.
(cw7/nusantaraterkini.co)
