Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Rupiah Tertekan ke Rp17.885 per Dolar AS, Geopolitik dan Tarif Trump Jadi Pemicu Utama

Editor :  hendra
Reporter :  Hendra Mulya
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Seorang karyawan menghitung rupiah yang ditukarkan dengan dolar Amerika Serikat di salah satu money changer. (Foto: istimewa).

Nusantaraterkini.co, JAKARTANilai tukar Rupiah kembali berada di bawah tekanan pada pembukaan perdagangan Selasa (2/6/2026). Mata uang Indonesia tercatat melemah ke level Rp17.885 per dolar Amerika Serikat (AS), mencerminkan meningkatnya tekanan eksternal yang membayangi pasar keuangan domestik.

Pelemahan Rupiah kali ini dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Mulai dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga kebijakan perdagangan terbaru Amerika Serikat yang kembali memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi dunia.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai penguatan indeks dolar AS menjadi faktor utama yang menekan mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah. Sentimen tersebut muncul seiring memanasnya hubungan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat.

Baca Juga : Rupiah Bertahan di Zona Hijau, Menguat Tipis terhadap Dolar AS di Tengah Penguatan Indeks DXY

Pasar juga mencermati perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah. Meningkatnya risiko keterlibatan Iran dalam konflik Israel-Libanon dinilai berpotensi memperluas ketidakpastian geopolitik dan mendorong investor mengalihkan dana ke aset-aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Tidak hanya itu, kebijakan perdagangan Presiden AS Donald Trump turut menambah tekanan di pasar global. Pemerintah AS memutuskan menaikkan tarif impor sejumlah komoditas strategis seperti tembaga, aluminium, dan baja menjadi 15 persen. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai meningkatnya tensi perang dagang yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi global.

Faktor Domestik Ikut Membebani Rupiah

Baca Juga : Cadangan Devisa Menyusut, Rupiah Berpotensi Tergelincir ke Rp18.230 per Dolar AS

Dari dalam negeri, kebutuhan impor energi yang tinggi turut memperbesar permintaan dolar AS. Indonesia saat ini masih mengandalkan impor minyak mentah dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar nasional.

Ketika harga minyak dunia meningkat, kebutuhan devisa untuk membiayai impor energi otomatis ikut bertambah. Kondisi tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar Rupiah, terutama di tengah menguatnya dolar AS di pasar internasional.

Sementara itu, rencana implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang sebelumnya sempat memberikan sentimen positif belum mampu memberikan dampak signifikan. Pelaku pasar masih menunggu kepastian aturan serta kesiapan dunia usaha dalam menjalankan kebijakan tersebut.

Baca Juga : IHSG Tertekan Tajam, Analis Prediksi Koreksi Berlanjut hingga Sentuh Level 5.100

Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Masyarakat

Melemahnya Rupiah berpotensi memicu kenaikan harga berbagai komoditas yang bergantung pada bahan baku impor. Produk seperti kedelai, jagung, pupuk, hingga sejumlah kebutuhan industri diperkirakan menghadapi tekanan biaya yang lebih tinggi.

Kondisi ini dapat berdampak pada meningkatnya biaya produksi perusahaan, terutama sektor padat karya. Jika berlangsung dalam jangka panjang, risiko perlambatan aktivitas usaha hingga potensi pengurangan tenaga kerja tidak dapat diabaikan.

Baca Juga : BI Naikkan Suku Bunga Jadi 5,50%, Rupiah Berpeluang Kembali Menguat ke Level Rp17.000 per Dolar AS

Di sisi lain, kenaikan harga barang impor juga berpotensi mendorong inflasi dan mengurangi daya beli masyarakat. Untuk menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar, Bank Indonesia diperkirakan akan mempertimbangkan langkah pengetatan kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga acuan secara bertahap.

Prospek Rupiah ke Depan

Menurut pengamat, arah pergerakan Rupiah dalam beberapa bulan ke depan masih sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik global dan kondisi pasar energi dunia. Stabilitas kawasan Timur Tengah, khususnya jalur distribusi minyak internasional, menjadi faktor penting yang terus dipantau investor.

Baca Juga : IHSG Ambles 4 Persen dan Rupiah Tembus Rp18.176, Pemerintah Diminta Tak Hanya Andalkan Retorika

Selain itu, pemerintah juga diharapkan mampu memperkuat cadangan devisa serta menjaga kepercayaan investor melalui berbagai kebijakan ekonomi yang mendukung stabilitas pasar keuangan nasional.

Dalam jangka pendek, volatilitas Rupiah diperkirakan masih cukup tinggi seiring meningkatnya ketidakpastian global. Pelaku pasar pun diminta mencermati perkembangan ekonomi internasional yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan mata uang Indonesia.

(Dra/nusantaraterkini.co).