Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Scam THR Mengintai, VIDA Serukan 'Jangan Asal Klik'

Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Menjelang pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), VIDA, penyedia solusi digital identity dan fraud prevention di Indonesia, meluncurkan Public Service Announcement (PSA) bertajuk “Jangan Asal Klik” untuk mengedukasi masyarakat dan meningkatkan kewaspadaan terhadap penipuan digital.(foto:istimewa)

Nusantaraterkini.coJAKARTA- Menjelang pencairan Tunjangan Hari Raya (THR), VIDA, penyedia solusi digital identity dan fraud prevention di Indonesia, meluncurkan Public Service Announcement (PSA) bertajuk “Jangan Asal Klik” untuk mengedukasi masyarakat dan meningkatkan kewaspadaan terhadap penipuan digital. Melalui kampanye ini, VIDA mendorong literasi anti-scam khususnya pada periode ketika aktivitas digital masyarakat meningkat dan kerap dimanfaatkan oleh pelaku penipuan, sekaligus mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat pelindungan masyarakat di ruang digital.

Peluncuran kampanye ‘Jangan Asal Klik’ ini diresmikan oleh Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Republik Indonesia, Teguh Afriyadi; Chief Operating Officer VIDA, Victor Indajang; dan Director of Public Affairs VIDA, Chaerany Putri di Jakarta pada Selasa (10/3/2026). Pada kesempatan yang sama, VIDA juga meluncurkan whitepaper bertajuk “VIDA 2026 SEA Digital Identity Fraud Outlook.” 

Baca Juga : VIDA Hadirkan ID FraudShield: Solusi Teknologi Deteksi Penipuan Identitas dengan Sistem Pertahanan Berlapis

Whitepaper ini membahas bagaimana lonjakan scam kerap terjadi pada periode pencairan dana secara massal, khususnya saat momen pencairan THR. Pada momen ini, aktivitas pembayaran digital masyarakat meningkat tajam, sehingga menciptakan kondisi “ramai transaksi” yang kerap dimanfaatkan pelaku untuk menyusupkan modus penipuan yang terlihat meyakinkan.  Di luar periode THR, whitepaper ini juga menyoroti pola berulang yang disebut “payday pulse”, yaitu peningkatan risiko yang muncul hampir setiap bulan pada rentang tanggal 25–28, selaras dengan periode pencairan gaji. Pola ini memperkuat temuan bahwa scam semakin terjadwal dan mengikuti momentum nasional. 

Baca Juga : Polsek Sunggal Bekuk Pelaku Penggelapan Sepeda Motor Melalui Aplikasi Kencan

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Komdigi RI, Teguh Afriyadi, menegaskan bahwa tren penipuan saat ini sangat dipengaruhi momentum dan kerap dipicu kebiasaan pengguna yang kurang melakukan verifikasi. 

“Setidaknya ada sekitar 1.700 laporan terkait scam setiap hari. Polanya meningkat dan sangat bergantung momentum—biasanya menjelang Lebaran, Natal, dan libur sekolah. Salah satu pemicunya adalah kebiasaan masyarakat yang terlalu cepat percaya tanpa verifikasi kebenarannya,” ujar Teguh.  

Baca Juga : BPKN Desak Pembentukan Satgas Perlindungan Konsumen Digital, Respon Maraknya Penipuan Canggih ​

Komdigi juga mencatat bahwa penipuan kerap terjadi melalui aplikasi pesan dan media sosial. Berdasarkan data CekRekening.id pada periode 2017–31 Oktober 2025, total laporan aduan terkait nomor rekening bank dan nomor e-wallet yang terindikasi digunakan dalam penipuan paling banyak muncul melalui aplikasi pesan, dengan akumulasi 396.691 laporan. Sementara itu, kasus yang terjadi di media sosial berada di urutan berikutnya dengan total 281.050 laporan. Temuan ini menunjukkan bahwa pelaku kerap memanfaatkan kanal yang paling dekat dengan keseharian masyarakat, sehingga pesan, tautan, maupun dokumen yang terlihat “wajar” dan “mendesak” lebih mudah dipercaya.

Kondisi tersebut kerap terjadi karena masih adanya kecenderungan sebagian masyarakat untuk langsung merespons tanpa verifikasi saat menerima pesan, tautan, atau dokumen. Karena itu, kampanye “Jangan Asal Klik” mengajak masyarakat untuk berhenti sejenak dan mengecek apakah link maupun dokumen yang dibagikan terindikasi mencurigakan sebelum mengambil tindakan.

Chief Operating Officer VIDA, Victor Indajang, menambahkan bahwa penipuan digital kini tidak lagi dilakukan secara individual, melainkan semakin terorganisir dan berkembang layaknya sebuah industri. Karena itu, menurutnya, garda utama perlindungan tetap dimulai dari kesadaran diri: jangan mudah tergiur, jangan terburu-buru saat menerima pesan atau dokumen, dan biasakan stop, cerna, verifikasi, baru bertindak.

Kampanye “Jangan Asal Klik” selaras dengan peringatan dari Komdigi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Bank Indonesia (BI) terkait peningkatan modus penipuan dokumen digital, impersonasi, serta social engineering berbasis AI. Data OJK juga mengungkap kerugian masyarakat akibat penipuan digital mencapai sekitar Rp9,1 triliun berdasarkan lebih dari 400 ribu laporan selama November 2024 hingga akhir 2025, dengan modus mulai dari phishing, investasi bodong, hingga penyalahgunaan dokumen digital yang tampak resmi.

Dalam konteks Ramadan, kampanye ini menekankan bahwa keamanan digital juga merupakan bagian dari menjaga amanah di bulan suci. Ramadan bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang menjaga kepercayaan dan melindungi keluarga dari risiko finansial akibat scam. Karena itu, VIDA mengajak masyarakat membangun kebiasaan digital yang lebih aman.

Sejalan dengan itu, Victor  juga menekankan bahwa kebiasaan verifikasi adalah langkah sederhana yang dampaknya besar, terutama pada periode pencairan THR. “Di periode pencairan THR, satu tautan palsu yang terlihat meyakinkan bisa memicu account takeover atau pencurian data dalam hitungan detik. Siapa pun bisa terjerat. Karena itu, ‘Jangan Asal Klik’ kami kemas dalam format video edukatif yang ringan dan mudah dipahami, menargetkan lintas generasi, terutama generasi muda yang aktif di media sosial dan aplikasi pesan singkat. Kami percaya kesadaran publik adalah fondasi keamanan dan kepercayaan di ekosistem digital. Edukasi perlu dimulai dari diri sendiri dengan memahami tanda-tanda penipuan, menyadari risikonya, dan berpikir dua hingga tiga kali sebelum mengeklik tautan,” pungkas Victor.

(Emn/Nusantaraterkini.co)