Nusantaraterkini.co, TAPANULI TENGAH - Darniwati Pasaribu (58) menghabiskan hampir seluruh waktunya sejak Jumat hingga Senin (22/12/2025) untuk membersihkan warung kecil miliknya di Kelurahan Sorkam, Kecamatan Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah.
Lumpur setebal mata kaki masih menempel di lantai semen, rak kayu, hingga sudut-sudut dapur warung yang selama ini menjadi satu-satunya sumber penghidupannya. Setiap pagi, Darniwati datang membawa ember, sapu, dan sekop kecil, lalu mulai mengeruk sisa-sisa banjir yang terbawa dari hulu.
Perempuan paruh baya itu mengatakan, banjir yang datang pada akhir November lalu bukan hanya merusak bangunan warung, tetapi juga menghilangkan seluruh stok dagangan. Beras, gula, mi instan, rokok, hingga minuman kemasan hanyut bercampur lumpur.
Baca Juga : Tiga Pekan Berlalu, Bencana Tapteng Sisakan Trauma Bagi Lansia
“Semua habis. Tidak ada satu pun yang bisa diselamatkan. Bahkan etalase pecah, kulkas terbalik,” ujar Darniwati saat ditemui di lokasi, Senin siang.
Membersihkan warung, bagi Darniwati, bukan sekadar soal kebersihan, melainkan upaya perlahan untuk kembali berdiri. Namun, keterbatasan modal membuat langkahnya tertatih. Ia mengaku belum mampu membeli ulang barang dagangan karena tabungan ikut terkuras selama masa mengungsi.
Darniwati juga menyebut, belum adanya aktivitas ekonomi yang pulih membuat warga sekitar kesulitan saling menopang. Banyak pelanggan tetapnya juga terdampak banjir dan kehilangan pekerjaan sementara.
“Kalau warung buka tapi orang tak punya uang, sama saja. Jadi sekarang saya bersihkan dulu, pelan-pelan,” ucapnya, sembari menyiram lantai dengan air bercampur sabun.
Ia berharap, selain bantuan logistik dan pembangunan hunian tetap, pemerintah juga memikirkan pemulihan ekonomi warga kecil seperti dirinya.
“Kami ini bukan hanya butuh rumah, tapi juga butuh usaha untuk hidup. Kalau tidak berdagang, saya tidak punya penghasilan lain,” tutur Darniwati.
Kondisi serupa juga dirasakan pedagang kecil di kawasan Terminal Sibolga. Tiga pekan pascabencana, aktivitas di terminal yang biasanya ramai penumpang masih jauh dari normal.
Sejumlah kios makanan dan lapak minuman tampak tutup lebih awal, sebagian bahkan belum kembali beroperasi karena sepinya pembeli.
Salah seorang pedagang minuman, Hengki (33), di terminal mengaku pendapatannya turun drastis sejak bencana melanda wilayah Tapanuli Tengah dan sekitarnya.
“Biasanya sehari bisa dapat Rp 1 juta bahkan lebih. Sekarang udah susah,” katanya.
Menurutnya, jumlah penumpang bus antar-kota menurun tajam karena akses jalan di beberapa daerah belum sepenuhnya pulih.
Minimnya arus penumpang berdampak langsung pada perputaran uang di terminal. Para pedagang berharap ada langkah konkret untuk menggerakkan kembali ekonomi lokal, mulai dari perbaikan akses transportasi hingga bantuan modal usaha kecil.
“Kalau orang belum bergerak, kami juga tidak bisa jualan. Bencana ini bukan cuma soal rusak, tapi soal hidup yang ikut berhenti,” ujarnya.
Diketahui, Pemerintah resmi memulai pembangunan hunian tetap (huntap) bagi korban bencana hidrometeorologi di Sumatera Utara. Wakil Gubernur Sumut Surya berharap proyek tersebut dapat diselesaikan tepat waktu agar warga terdampak segera keluar dari pengungsian dan kembali menjalani kehidupan normal.
Pada tahap awal, Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) membangun ratusan unit huntap di empat daerah. Sebanyak 200 unit dibangun di Kota Sibolga, 118 unit di Kabupaten Tapanuli Tengah, 103 unit di Kabupaten Tapanuli Utara, serta 227 unit di Kabupaten Tapanuli Selatan. Total 648 hunian tetap.
Lokasi pembangunan tersebar di sejumlah titik strategis, yakni area GOR Sibolga untuk Kota Sibolga, kawasan Asrama Haji Pinangsori di Tapanuli Tengah, Desa Sibalanga di Tapanuli Utara, serta Kebun Hapesong PTPN IV di Tapanuli Selatan. Seluruh pembangunan huntap bagi korban banjir dan longsor tersebut ditargetkan rampung pada awal 2026.
Baca Juga : Luapan Hati Rut Mei Hutagalung Korban Bencana Tapteng, Rumah Hancur hingga Tinggal di Gubuk 3 Meter Bersama Balita
“Kita berharap hunian tetap ini selesai tepat waktu sehingga bisa langsung dihuni warga terdampak. Dengan begitu, mereka tidak perlu lagi tinggal di pengungsian,” ujar Surya saat mendampingi Menteri PKP Maruarar Sirait dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian pada acara peletakan batu pertama (ground breaking) di lahan Asrama Haji Pinangsori, Tapanuli Tengah, Minggu (21/12/2025).
(Cw7/Nusantaraterkini.co)
