Nusantaraterkini.co, HOMS - Di bawah pengamanan ketat dan dalam suasana yang penuh duka, puluhan pelayat pada Sabtu (27/12/2025) berkumpul di Masjid Imam Ali bin Abi Talib di Homs untuk melepas kepergian para korban serangan bom mematikan yang menghantam masjid tersebut saat pelaksanaan salat Jumat.
Dibalut kain kafan putih, jenazah para korban dibawa keluar seiring tangisan duka bergema di halaman masjid. Para wanita menangis histeris, para pria terdiam dengan tangan mengepal, dan raut wajah mereka menunjukkan ekspresi syok, marah, dan tidak percaya.
Serangan yang menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai 18 lainnya tersebut telah mengguncang area permukiman Wadi al-Dhahab, wilayah yang didominasi kelompok Alawi di kota tersebut.
Baca Juga : Dunia Internasional Mengutuk Keras Tragedi Pengeboman Rumah Ibadah di Suriah
Berdiri di dalam masjid yang rusak, Imam dan khatib Mohi al-Din Salloum mengatakan bahwa serangan tersebut tidak menyasar satu komunitas tertentu, melainkan ketenangan yang rapuh di Suriah.
"Tujuannya adalah untuk memicu pemberontakan," ungkap Salloum.
"Ya, Alawi telah menjadi korban, ditekan, dan dibunuh, tetapi target sebenarnya adalah untuk memastikan Suriah tidak pernah stabil," sambungnya.
Dia menyebutkan bahwa serangan bom itu sudah melanggar semua batasan moral.
"Saya tidak pernah membayangkan para teroris akan bertindak sejauh ini sampai menyasar sebuah masjid pada hari Jumat, hari pelaksanaan salat (Jumat). Tindakan ini melampaui semua ekspektasi kriminalitas kami," paparnya, suaranya bergetar saat mengenang pemandangan anak-anak terluka dan para ibu yang berduka.
Baca Juga : Ledakan Bom Guncang Masjid di Homs, 8 Jemaah Alawi Tewas Saat Salat
Warga setempat menunjukkan sentimen serupa saat prosesi pemakaman. Shadi Darwish, yang sudah lama tinggal di Wadi al-Dhahab, mendeskripsikan serangan tersebut sebagai sebuah pukulan keras.
"Apa yang terjadi begitu mendadak dan mengerikan," ujarnya.
"Orang-orang datang untuk beribadah, dan ledakan ini terjadi. Ini merupakan terorisme. Sepanjang hidup kami, kami telah hidup bersama. Kami tidak pernah membedakan satu sama lain berdasarkan aliran. Kami hidup berdampingan," tambahnya.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (Syrian Observatory for Human Rights), sebuah lembaga pemantau perang yang berbasis di Inggris, mengatakan para korban berasal dari komunitas Alawi, menjelaskan konteks sektarian yang sensitif dari serangan tersebut.
Sebuah kelompok radikal yang kurang dikenal dan menyebut dirinya sebagai Ansar al-Sunnah mengeklaim sebagai pelaku serangan tersebut. Kelompok itu juga mengaku bertanggung jawab atas serangan bom bunuh diri di sebuah gereja di Damaskus pada Juni lalu yang menewaskan 25 orang.
Baca Juga : Israel Tingkatkan Operasi di Suriah Selatan, Terjadi Lonjakan Serangan
Tidak ada banyak informasi yang tersedia terkait kelompok ini, yang muncul sebelumnya pada tahun ini menyusul transisi politik negara tersebut.
Berdasarkan temuan awal, ledakan tersebut disebabkan oleh sejumlah alat peledak yang dipasang di dalam masjid, di sebuah area yang dipenuhi jemaah pada waktu kejadian.
Otoritas dalam negeri Suriah mengatakan bahwa penyelidikan masih berlangsung untuk menentukan seluruh kronologi pengeboman dan mengidentifikasi semua pihak yang bertanggung jawab, seraya menekankan bahwa serangan semacam ini bertujuan untuk merusak kohesi sosial di saat negara tersebut sedang berjuang untuk memulihkan stabilitas.
Suriah mengalami serangkaian kekerasan sektarian sejak pemimpin lamanya, Bashar al-Assad, yang merupakan bagian dari kelompok Alawi, dilengserkan oleh serangan pemberontak tahun lalu. Hal ini membuka jalan bagi pemerintahan yang dipimpin oleh anggota mayoritas Muslim Sunni.
Dalam salah satu serangan terbaru, dua tentara Amerika Serikat dan seorang penerjemah sipil tewas sebelumnya pada bulan ini di Suriah tengah di tangan seorang penyerang yang oleh pihak otoritas disebut sebagai terduga anggota ISIS.
"Suriah tidak akan berhasil dengan hanya satu warna saja," sebut Imam Salloum. "Negara ini hanya akan berhasil dengan melibatkan semua aliran dan komunitasnya. Mereka yang menginginkan pertumpahan darah terus terjadi tidak akan menentukan masa depan kita."
(*/Nusantaraterkini.co)
Sumber: Xinhua
