Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Setahun Kepemimpinan Prabowo, Politik Luar Negeri Indonesia Makin Tegas dan Strategis

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Junaidin Zai
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Kolase foto Presiden Prabowo dan Teguh Santosa. (Foto: istimewa)

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dinilai telah membawa perubahan signifikan terhadap arah politik luar negeri Indonesia.

Pengamat hubungan internasional Teguh Santosa menilai, diplomasi Indonesia kini tampil lebih tegas, aktif, dan strategis dalam menghadapi dinamika global.

Menurut Teguh, hubungan Indonesia dengan sejumlah negara besar menunjukkan kemajuan yang cukup nyata. Ia mencontohkan perubahan sikap beberapa negara kunci di Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), seperti Prancis dan Inggris, terutama dalam isu-isu kemanusiaan seperti Palestina.

“Misalnya, kita dapat melihat perubahan sikap negara-negara kunci di Dewan Keamanan PBB terhadap isu Palestina. Itu sangat dipengaruhi oleh hubungan mereka dengan Indonesia yang kini lebih terbuka dan saling menghormati,” katanya dikutip dari kanal YouTube Teguh Santosa, Rabu (22/10/2025).

Baca Juga : Prabowo Ajak Ramaphosa Perkuat Hubungan Sesama Anggota BRICS

Ia menambahkan, pendekatan politik luar negeri di era Prabowo menekankan keseimbangan antara diplomasi kemanusiaan dan kepentingan nasional. Indonesia, kata Teguh, tidak lagi hanya menjadi pengamat, tetapi aktif menawarkan solusi konkret di berbagai forum internasional.

“Prabowo menyoroti adanya standar ganda dan ketimpangan tatanan dunia, serta menyatakan secara terbuka dalam berbagai forum, termasuk di negara-negara Muslim. Sikap seperti ini memperlihatkan posisi Indonesia yang berani dan independen,” ujarnya.

Teguh juga menilai pendekatan Prabowo terhadap isu Palestina cukup berbeda. Ia menyebut, Indonesia berupaya mendorong proses de-radikalisasi di tubuh kelompok perlawanan seperti Hamas.

“Model yang dibangun Indonesia untuk membantu proses perdamaian adalah memastikan kedua pihak menurunkan senjata terlebih dahulu,” katanya.

Menanggapi video percakapan antara Prabowo dan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sempat viral, Teguh menilai hal itu wajar terjadi dalam hubungan antar kepala negara. Menurutnya, komunikasi informal justru menjadi keunggulan Prabowo dalam membangun relasi internasional.

“Itu penting dalam komunikasi global. Kalau komunikasi formal itu sudah biasa, protokoler. Tapi kemampuan Prabowo membuat Trump memperhitungkan Indonesia, itu yang justru perlu diapresiasi,” ujar Teguh.

Baca Juga : Setahun Dampingi Prabowo, Gibran Harus Perbaiki Kualitas

Selama satu tahun pemerintahannya, Prabowo diketahui aktif melakukan diplomasi luar negeri. Berdasarkan penelusuran, dalam 364 hari masa pemerintahannya, Prabowo telah melakukan 32 kali kunjungan kenegaraan ke 22 negara, mulai dari China, Brasil, hingga Amerika Serikat.

Kunjungan-kunjungan tersebut memiliki beragam misi, mulai dari memperkuat kerja sama investasi hingga menghadiri berbagai konferensi tingkat tinggi (KTT) internasional.

China menjadi negara pertama yang dikunjungi Prabowo setelah dilantik sebagai presiden pada 20 Oktober 2024. Ia bertolak ke Beijing pada 9 November 2024, menandai penguatan hubungan ekonomi dan geopolitik antara kedua negara.

Kunjungan tersebut menghasilkan investasi senilai US$10,07 miliar atau sekitar Rp157,6 triliun di berbagai sektor strategis, seperti ketahanan pangan, energi, hilirisasi komoditas tambang, serta riset dan teknologi. Dalam kesempatan itu juga dilakukan penandatanganan tujuh nota kesepahaman (MoU), di antaranya terkait ekspor kelapa segar Indonesia ke China dan kerja sama perikanan tangkap berkelanjutan.

Baca Juga : Gerindra Akui Ada Pengaruh Jokowi dalam Pemerintahan Prabowo

Jika dibandingkan dengan para pendahulunya, Prabowo tergolong presiden yang paling aktif melakukan kunjungan luar negeri. Dalam setahun pertamanya, jumlah negara yang dikunjungi Prabowo setara dengan Presiden Abdurrahman Wahid, dan jauh lebih banyak dibandingkan Susilo Bambang Yudhoyono (10 negara) maupun Joko Widodo (7 negara).

Selain kunjungan bilateral, Prabowo juga aktif menghadiri pertemuan internasional, seperti Sidang Majelis Umum ke-80 PBB di New York dan perundingan damai Gaza di Mesir.

“Diplomasi aktif yang dilakukan Prabowo menunjukkan bahwa Indonesia tidak lagi menjadi penonton, melainkan pemain penting dalam percaturan global,” tutup Teguh.

(Cw7/Nusantaraterkini.co)