Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Terparah sejak 1992, Banjir Demak Rendam 13 Kecamatan, Ketinggian Capai 3 Meter, 25.000 Warga Mengungsi

Editor :  Redaksi2
Reporter :  Redaksi
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Kondisi Alun-alun Demak yang saat ini tergenang air banjir, Selasa (19/3/2024). (KOMPAS.COM/NUR ZAIDI)(KOMPAS.COM/NUR ZAIDI)

Nusantaraterkini.co, JATENG - Banjir di Kabupaten Demak, Jawa Tengah disebut terparah sepanjang masa. Bahkan pada hari ini, Rabu (20/3/2024), banjir kian meluas hingga merendam 13 kecamatan atau 70 desa.

Puluhan ribu warga pun terpaksa mengungsi karena rumahnya kebanjiran. Kepala BPBD Kabupaten Demak, Agus Nugroho mengatakan, Kecamatan Karanganyar terendam banjir hingga ketinggian air sampai 3 meter.

Saat ini, seluruh warganya pun memilih untuk mengungsi.

Baca Juga : Galian Tanah Urug CV Napogos Berkarya Jaya, Merupakan Zona Aman Bencana di Tapteng 

"Banjirnya semakin tinggi dan semakin meluas hampir 13 kecamatan, kemarin 11 kecamatan sekarang desanya ada 70. Terdampak 97.000 warga, kalau pengungsi kurang lebih 25.000 ada yang di Kudus dan di Demak," ujar Agus saat rakor penanganan banjir di kantor Gubernur Jawa Tengah, dikutip Kompas.com, Rabu (20/3/2024).

Status tanggap darurat

Agus menyebutkan, banjir kali ini lebih parah dibandingkan dengan banjir tiga dekade lalu, yakni pada 1992 silam.

Baca Juga : Bagindo Togar: Tertibkan TPS Liar di Tanah Kosong Sebelum Terapkan Denda Sampah ke Masyarakat

"Ini yang paling parah, kalau 1992 walaupun saya juga ngungsi tapi tidak separah ini. Ini nggak ada di Indonesia, sampai kita tiga kali mengeluarkan tanggap darurat," bebernya.

Menururtnya, dengan jebolnya 7 tanggul di Jawa Tengah turut memperparah banjir di Demak. Kemudian tak kalah penting, kerusakaan lingkungan di daerah atas yakni Ungaran, Boyolali, Salatiga juga memperparah banjir di Demak.

"Demak ini unik, tidak ada hujan tidak ada angin, banjir. Mestinya kami ini mendapatkan perlakuan yang baik ketika daerah hulunya baik. Ini kan kerusakan alam yang ada di atas, alih fungsi lahan dan sebagainya ini kan mengakibatkan sungai kita rusak," jelasnya.

Baca Juga : Update Banjir Demak, Genangan Air Sebagian Surut, Jumlah Pengungsi Menurun

Hal ini menjadi penting mengingat Demak rentan menjadi korban kerusakan alam dari wilayah atas di wilayah Jawa Tengah.

Sehingga upaya adaptasi dan mitigasi juga harus dilakukan dari akar masalah.

"DAS kita rusak, kalau sungai itukan menerima akibatnya saja, dampak dari penebangan hutan di atas. Pembuatan villa-villa hotel-hotel yang ada di atas itu kan juga dampaknya ke tempat kita," ungkapnya.

Baca Juga : Polri Berangkatkan 3 Tim Bantu Korban Banjir di Kabupaten Demak

Lebih lanjut, pihaknya tak dapat memprediksi secara pasti banjir besar di Demak dapat berhenti kecuali sejumlah tanggul-tanggul sungai yang jebol diperbaiki.

"Belum tahu kapan (surut) karena tanggulnya belum tertutup," tandasnya. (rsy/nusantaraterkini.co)