Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Tim DVI Temukan Jenazah Diduga Balita dalam Kecelakaan Bus ALS di Muaratara, Total Korban Tewas jadi 18 Orang

Editor :  Rozie Winata
Reporter :  Adetia Purwaningsih
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Kepala RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, Kombes Pol Budi Susanto saat konferensi pers di RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, Jumat (8/5/2026). (Foto: Tia/nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, PALEMBANG — Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri pada hari kedua operasi identifikasi korban kecelakaan bus ALS dan truk tangki di wilayah Muaratara menemukan satu lagi jenazah dari 16 kantong jenazah yang sebelumnya diterima di RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, Sumatera Selatan pada, Kamis (7/5/2026).

Temuan tersebut didapat setelah tim melakukan pemeriksaan ulang kantong jenazah dan menemukan satu body part tambahan yang diduga merupakan anak berusia di bawah lima tahun (balita).

Baca Juga : Kecelakaan Bus ALS Alarm Darurat Keselamatan Transportasi Jalan

Kepala RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, Kombes Pol Budi Susanto menyampaikan jika tim DVI terus bekerja melakukan identifikasi korban dengan dukungan data dari keluarga korban melalui posko antemortem maupun layanan hotline.

Baca Juga : Kondisi Jenazah Rusak Berat, Tim DVI Dalami Satu Sampel DNA Korban Bus ALS

“Dari apa yang dilakukan oleh tim DVI Pusdokkes Polri dalam rangka identifikasi korban bus ALS dan truk tangki di daerah Muaratara, tak bosan-bosan kami sampaikan ucapan belasungkawa, dukacita yang mendalam dari Bapak Kapolda Sumatera Selatan, juga seluruh jajaran,” ujar Budi saat konferensi pers di RS Bhayangkara, Jumat (8/5/2026).

Baca Juga : Kesaksian Keluarga Korban, Bus ALS yang Kecelakaan di Muratara Lebih Banyak Bawa Barang daripada Penumpang

Ia menjelaskan informasi keluarga korban saat ini masuk melalui layanan hotline bagi keluarga yang tidak dapat hadir langsung maupun yang datang langsung untuk menyerahkan data-data pendukung di pos antemortem.

“Informasi yang diberikan ke kami saat ini masuk melalui hotline bagi keluarganya yang tidak bisa datang secara langsung maupun yang datang secara langsung untuk memberikan data-data yang kita kompulir di pos antemortem tadi,” jelasnya.

Budi menyebut, sejumlah data pendukung seperti gigi, properti, maupun aksesoris yang ditemukan pada korban belum bisa dijadikan dasar penetapan identitas secara pasti.

“Untuk yang diberikan informasi gigi dan lain-lain memang sudah berapa kita identifikasi. Tapi kita kan belum bisa memastikan ini gigi siapa. Sama seperti yang tadi saya sampaikan seperti properti kalung tadi,” ujarnya.

Ia mencontohkan, terdapat ketidaksesuaian antara laporan keluarga dengan hasil pemeriksaan jenazah.

“Jadi laporan keluarga itu laki-laki atau perempuan. Sementara kita menemukan kalung tersebut yang identik, hampir mirip dengan kalung yang ditunjukkan foto oleh keluarga, itu jenazahnya kita identifikasi sebagai korban laki-laki jenis kelamin laki-laki,” katanya.

Terkait jumlah korban, Budi menegaskan tim DVI tidak berpedoman pada data manifest penumpang, melainkan fokus pada identifikasi forensik.

“Mengenai data manifest memang secara khusus kami tidak memegang data tersebut siapa penumpangnya siapa, karena memang sama-sama kita ketahui bahwa bus ini kan tidak seperti pesawat yang setiap orang naik harus punya tiket. Tapi yang kita lakukan di sini hanya terfokus kepada identifikasi saja,” tuturnya.

Dari hasil pendalaman, tim menemukan adanya dua bagian tubuh dalam satu kantong jenazah. Yang mana satu bagian tersebut menempel di bagian ketiak, bagian tubuh tambahan tersebut diduga milik anak kecil (balita).

“Nah, seperti yang disampaikan kemarin bahwa ada 16 kantong mayat. Ternyata pada hasil penelusuran kita hari ini, pendalaman kita menemukan 17, di mana dalam satu kantong mayat itu kita jumpai bahwa ada dua potongan tubuh yang lengket, jadi di daerah perlengketan itu sekitar ketiaknya," katanya.

"Tadi kami rekonsiliasi, didapatkan bahwa memang untuk jenis kelamin kita tidak bisa tentukan, karena memang potongannya lebih kecil dan hancur. Cuma kita bisa mengambil dari beberapa bagian tubuhnya untuk pemeriksaan sampel. Tapi dari situ kita bisa menduga bahwa temuan satu body part tadi diduga anak-anak yang mungkin usianya di bawah 5 tahunan,” ungkapnya.

Ia juga menekankan jika total korban meninggal akibat kecelakaan tersebut saat ini berjumlah 18 orang.

“Jadi total 18 yang meninggal akibat kecelakaan bus, tapi yang meninggal di tempat pada saat itu 17 yang sudah kita identifikasi, plus satu orang yang tadinya korban itu kemudian meninggal dunia,” ucap dia.

(Tia/Nusantaraterkini.co)