nusantaraterkini.co, MEDAN - Minuman berpemanis sudah menjadi konsumsi masyarakat. Bukan anak-anak saja, bahkan orang dewasa juga kerap kali mengkonsumsi minuman berpemanis dalam kemasan.
Berdasarkan data yang dirilis Kemenkes, Indonesia menempati posisi ketiga konsumsi terbanyak Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK). Jumlah itu sebesar 20,23 liter. Hal ini perlu diwaspadai masyarakat, agar tidak menjadi kebiasaan buruk yang akan menimbulkan berbagai macam penyakit.
Ners UM Surabaya Islam Syarifurrahman menyebut, minuman instan kebanyakan dikonsumsi oleh para remaja bahkan anak-anak.
Baca Juga : 350 Porsi Ayam MBG di Medan Berbau dan Tak Layak Konsumsi, Dinas Pendidikan Sebut Karena Pesanan Menumpuk
Menurutnya semakin dini seseorang terpapar minuman instan dengan berbagai macam kandungan yang tidak baik maka akan semakin tinggi mengalami risiko berbagai penyakit seperti diabetes sampai gagal ginjal.
Syarifurrahman mengatakan, minuman instan identik dengan bahan tambahan seperti pemanis buatan, pewarna buatan, serta pengawet yang merugikan bagi tubuh. Tambahan tersebut sangat berbahaya bagi tubuh karena sulit diproses bahkan memperberat kerja hati karena bersifat karsinogen.
“Perlu diwaspadai bahwa terdapat kandungan sakarin (zat pemanis buatan) yang memiliki tingkat kemanisan lebih tinggi daripada gula biasa sehingga apabila sakarin tersebut dalam dosis tinggi dapat mengakibatkan kanker kantong kemih dan kandungan gula yang tinggi sehingga mengakibatkan seseorang mengalami penyakit diabetes,” ujar Syarifurrahman dalam keterangannya, seperti dikutip Senin (5/8/2024).
Baca Juga : Durian Indonesia Miliki Peluang Besar di Pasar China
Menurutnya, seseorang yang sering mengkonsumsi minuman manis akan cenderung memiliki kadar HDL (kolesterol baik) yang rendah dan kadar LDL (kolesterol jahat) yang lebih tinggi.
Kadar LDL yang tinggi bisa menyebabkan atau memicu penyempitan pembuluh darah pada jantung dan dapat meningkatkan risiko terjadinya serangan jantung.
“Hasil penelitian menyebutkan mengkonsumsi 2-6 gelas minuman manis pada setiap minggu akan mengakibatkan risiko kematian sebesar 6%, sementara mengkonsumsi minuman manis sebanyak 1-2 gelas per hari dapat meningkatkan risiko kematian 14%,” terangnya.
Baca Juga : Marak Gagal Ginjal Anak, Komisi IX DPR Pastikan Panja GGL Sudah Dibentuk
Ia menegaskan, seseorang yang sering mengkonsumsi minuman instan berpemanis akan mengalami penurunan nafsu makan dikarenakan glukosa yang tinggi dalam darah. Hal ini disebut dengan glucostatic yakni bahwa pada pusat kenyang (satiety centre) yang ada pada nucleus ventromedial di hipotalamus dipengaruhi karena adanya peningkatan glukosa darah dan akan menyebabkan kegemukan.
Selanjutnya, minuman instan memiliki amfetamin dan kafein dengan dosis berlebih yang mempengaruhi fungsi ginjal. Amfetamin membuat penyempitan pembuluh darah ke ginjal yang mengakibatkan darah yang menuju ke ginjal dapat berkurang sehingga ginjal kekurangan asupan oksigen.
“Dari masalah tersebut akan terjadi penurunan kemampuan ginjal dalam menyaring darah sehingga mengakibatkan gagal ginjal,” pungkasnya.
(Dra/nusantaraterkini.co)
