Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

274 Jurnalis Gugur di Gaza Sejak Serangan Israel Oktober 2023

Editor :  hendra
Reporter :  Dra
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Anas Al-Sharif, jurnalis terkemuka Al-Jazeera di Jalur Gaza, tewas dibom Israel, Agustus 2025. (Foto: X/AnasAlSharif0)

nusantaraterkini.co, MEDAN - Tragedi demi tragedi terus menimpa dunia pers di Gaza. Terbaru, lima jurnalis Al Jazeera tewas dalam serangan Israel yang menghantam tenda tempat mereka bekerja di Gaza City, Minggu (10/8/2025) malam waktu setempat.

Kematian mereka menambah panjang daftar korban jiwa di kalangan jurnalis sejak pecahnya perang pada 7 Oktober 2023. Data Al Jazeera yang dirilis Selasa (12/8/2025) mencatat, total 274 jurnalis dan pekerja media tewas akibat serangan Israel, rata-rata 13 orang setiap bulan.

Mayoritas Korban Adalah Jurnalis Palestina

Baca Juga : Hak Jawab Kuasa Hukum Kementerian Pertanian RI

Dari total korban tersebut, 269 orang merupakan warga Palestina, disusul tiga jurnalis asal Lebanon, dan dua dari Israel. Jika dihitung sejak tahun 2000 di seluruh wilayah Palestina, angka korban bertambah menjadi 317 orang, menurut data Shireen.ps—situs pemantauan yang mengambil nama dari Shireen Abu Akleh, jurnalis Al Jazeera yang tewas ditembak pasukan Israel di Tepi Barat pada 2022.

Selain korban jiwa, periode 2023–2024 juga mencatat 845 pelanggaran terhadap kebebasan pers di Palestina. Pelanggaran itu mencakup:

1.Pelanggaran fisik: penembakan, pemukulan, dan serangan mematikan

Baca Juga : Koordinator KKJ Sumut: Sengketa Pers Cukup Diselesaikan di Dewan Pers

2.Pelanggaran non-fisik: intimidasi, represi, dan pembatasan liputan

Rinciannya:

2024: 28 pelanggaran fisik, 99 pelanggaran lainnya

Baca Juga : Cegah 'Gaza Kedua' di Lebanon, Spanyol Desak Uni Eropa Tangguhkan Kerja Sama dengan Israel

2023: 250 pelanggaran fisik, 468 pelanggaran lainnya

Sejak 1993 hingga 2024, tercatat 44 jurnalis ditahan oleh Israel.

"Membungkam Duta Kebenaran"

Baca Juga : DPR Soroti Konflik Timur Tengah, Kritik Standar Ganda dan Sikap AS

Shireen.ps menyebut pembunuhan hanyalah salah satu cara Israel membungkam media. Penangkapan, kekerasan fisik, hingga intimidasi sistematis menjadi metode yang terus digunakan untuk menghalangi jurnalis baik lokal maupun internasional, meliput situasi nyata di Palestina.

Banyak jurnalis tewas karena terjebak di area yang dibombardir. Namun, sejumlah kasus mengindikasikan adanya serangan yang memang menargetkan mereka secara langsung.

Salah satunya adalah serangan pada Minggu lalu, yang menewaskan Anas Al-Sharif (28), Mohammed Qreiqeh (33), Ibrahim Zaher (25), Mohammad Noufal (29), dan Moamen Aliwa (23). 

Baca Juga : Hari Kebebasan Pers Sedunia, AJI Sampaikan Enam Poin Desakan untuk Kebebasan Pers

Menurut Al Jazeera, kelima korban tewas akibat hantaman drone Israel yang diarahkan ke tenda tempat mereka bekerja.

Militer Israel mengakui bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mereka menuduh Al-Sharif sebagai komandan Hamas yang terlibat serangan roket terhadap warga Israel. Tuduhan ini langsung dibantah oleh Al Jazeera, yang menyebut insiden itu sebagai “upaya putus asa untuk membungkam kebenaran” di tengah rencana Israel menguasai Gaza sepenuhnya.

Tragedi serupa terjadi pada 24 Maret lalu, ketika Hossam Shabat (23) tewas akibat serangan Israel di Beit Lahiya, Gaza utara. Insiden-insiden ini menegaskan bahwa liputan di zona konflik Palestina bukan sekadar pekerjaan berisiko tinggi, tetapi juga perjuangan mempertahankan hak masyarakat dunia untuk mengetahui fakta yang terjadi di lapangan.

Baca Juga : Tundukkan News Room Labuhanbatu, MSJC Juara Porwasu 2026

(Dra/nusantaraterkini.co).