Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

6.078 Hektare Mangrove Ditarget Direhabilitasi hingga 2027

Editor :  Rozie Winata
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Foto Bersama usai selepas acara Evaluasi M4CR BRGM Sumut 2024 (Foto: Elvirida Lady Angel Purba/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Upaya percepatan rehabilitasi mangrove di Sumatera Utara (Sumut) terus digencarkan melalui Program Mangrove for Coastal Resilience (M4CR) yang diinisiasi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dengan dukungan Bank Dunia.

Perwakilan dari Provincial Project Implementation Unit (PPIU) M4CR BRGM Sumut, Aditya Wahyu Putra memaparkan program ini memiliki target rehabilitasi mangrove seluas 6.078 hektar hingga tahun 2027.

Baca Juga : Zakiyuddin Harahap: Penanganan Banjir Rob Belawan Membutuhkan Peran Lintas Sektoral

"M4CR merupakan program strategis untuk mempercepat rehabilitasi mangrove BRGM hingga 2027. Di Sumatera Utara, program ini baru berjalan pada Maret 2024 dengan fokus edukasi dan sosialisasi berupa sekolah lapang, pelatihan ekonomi, serta hibah usaha masyarakat di 93 desa," ujarnya, Selasa (17/12/2024).

Baca Juga : Menilik Pesona Hutan Bakau di Bekasi Jawa Barat

Hingga kini, program ini telah melakukan serangkaian kegiatan penting, di antaranya sosialisasi tingkat tapak, penetapan titik lokasi indikatif, identifikasi lokasi, penyusunan rancangan kegiatan, dan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS).

Proses prakondisi dan sosialisasi telah menjangkau delapan kabupaten, yakni Langkat, Asahan, Labuhanbatu Utara, Deliserdang, Serdang Bedagai, Kota Medan, Batubara, dan Labuhanbatu.

Baca Juga : Ilmuwan China Usulkan Strategi Baru Redam Konflik Manusia dan Satwa Liar

Sebanyak lima kabupaten, yaitu Langkat, Deliserdang, Serdang Bedagai, Asahan, dan Labuhanbatu Utara, kini telah memiliki rancangan kegiatan rehabilitasi mangrove.

Baca Juga : Putusan MK soal P3H Pastikan Masyarakat dapat Ruang Hidup dengan Menjaga Keberlanjutan Ekosistem

Total area rehabilitasi yang dirancang meliputi 947 hektar di dalam kawasan hutan dan 187 hektar di luar kawasan hutan, dengan pelibatan aktif dari 29 desa di 14 kecamatan.

Selain fokus pada pelestarian ekosistem mangrove, program ini juga mengutamakan pemberdayaan masyarakat lokal. BRGM telah menyalurkan dana hibah usaha produktif melalui mekanisme matching grant kepada 12 kelompok masyarakat.

Baca Juga : Pengguna Narkoba Picu Overkapasitas Lapas, Anggota DPR Usul Pendekatan Rehabilitasi

Hingga akhir tahun ini, rehabilitasi mangrove seluas 641 hektar telah dilakukan dengan melibatkan 28 kelompok masyarakat.

Baca Juga : Percepat Rekonstruksi, Pemprov Sumut Sinkronkan dan Perbarui Lima Sektor Prioritas Pascabencana

“Pemulihan ekosistem mangrove membutuhkan waktu yang panjang. Namun, kami optimis program ini dapat berjalan berkelanjutan dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah pusat, lembaga internasional, dan masyarakat lokal,” jelasnya.

Pelaksanaan rehabilitasi mangrove tidak lepas dari berbagai tantangan, seperti keterbatasan bibit mangrove yang memerlukan waktu pembibitan ideal selama 3-4 bulan, serta pandangan negatif pemilik tambak yang menganggap penanaman mangrove dapat mengganggu produktivitas perikanan.

Selain itu, faktor alam seperti pasang surut air laut yang bervariasi di setiap lokasi juga menjadi hambatan teknis di lapangan.

“Meskipun banyak tantangan, kami percaya keberlanjutan program ini dapat membantu memulihkan ekosistem mangrove secara signifikan, khususnya di Sumatera Utara yang memiliki potensi mangrove seluas 25.458 hektar berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2023,” pungkasnya.

Dengan target rehabilitasi 75 ribu hektar hingga 2027 di empat provinsi prioritas Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara program M4CR menjadi salah satu upaya strategis BRGM untuk mewujudkan ketahanan pesisir Indonesia.

(Cw9/Nusantaraterkini.co)