Nusantaraterkini.co, MEDAN – Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menegaskan bahwa penanganan sampah menjadi target operasional prioritas Pemerintah Kota (Pemko) Medan guna menghindari ancaman krisis lingkungan di masa depan.
Dalam pertemuan strategis menerima kunjungan kerja Komisi D DPRD Provinsi DKI Jakarta di Pendopo Rumah Dinas Wali Kota, Rabu (1/4/2026), Rico mengungkapkan bahwa tanpa langkah percepatan, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Terjun diprediksi akan mengalami overload pada tahun 2029. Saat ini, dari total 14 hektare luas TPA, hanya tersisa sekitar 2 hingga 3 hektare lahan yang belum terisi, sementara timbunan sampah yang dikelola telah mencapai angka fantastis yakni 600.000 ton.
Baca Juga : Hadiri Perayaan Waisak, Rico Waas Tekankan Komitmen Medan yang Inklusif dan Harmonis
Sebagai langkah percepatan konkret di sisi hilir, Wali Kota Rico Waas memaparkan bahwa Medan telah ditetapkan sebagai satu dari 10 kota di Indonesia yang menjalankan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Pemko Medan pun telah bergerak cepat dengan menyiapkan lahan seluas 5 hektare untuk pembangunan fasilitas teknologi tinggi tersebut yang nantinya akan menyuplai energi listrik ke PLN.
Baca Juga : Ditutup Wali Kota Medan, Berikut Para Pemenang Medan Coding Competition 2026
Meskipun mengakui tantangan finansial yang besar, berkaca pada pembangunan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) di Jakarta yang mencapai Rp1,7 triliun, Rico optimis sinergi dengan pemerintah pusat akan mempercepat realisasi infrastruktur vital ini di tengah keterbatasan APBD Medan yang berada di angka Rp7 triliun.
“Atas nama Pemerintah Kota Medan, kami mengucapkan selamat datang. Terima kasih atas kunjungan Bapak dan Ibu untuk melihat langsung kondisi Kota Medan,” ujar Rico Waas saat menyambut rombongan yang dipimpin Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta, Yuke Yurike.
Baca Juga : Atasi Gunung Sampah 30 Meter, Pemko Medan Matangkan Proyek Energi Listrik di TPA Terjun
Rico menjelaskan kompleksitas Medan dengan jumlah penduduk yang melonjak hingga 4 juta jiwa pada siang hari mengakibatkan produksi sampah harian mencapai 1.500 ton, bahkan bisa membengkak hingga 7.000 ton saat terjadi bencana banjir. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa komunikasi dan kolaborasi antar daerah sangat penting untuk mencari solusi bersama atas persoalan lingkungan yang semakin mendesak ini.
Baca Juga : Masih Menjadi Langganan Banjir, Pemko Medan Diminta Siapkan Penanganan Menyeluruh
Di sisi hulu, Pemko Medan terus melakukan akselerasi gerakan kebersihan berbasis masyarakat melalui program "Sapa Warga" dan "Gotong Royong Raya" yang melibatkan 3.000 personel di 21 kecamatan untuk menangani titik-titik sampah kritis secara rutin. Langkah ini juga didukung oleh upaya penambahan ketersediaan lahan guna menjamin pengelolaan sampah jangka panjang.
Dengan memperkuat kerja sama lintas eksekutif dan legislatif antar daerah, Rico Waas optimistis target operasional penanganan sampah di Medan dapat tercapai tepat waktu, sehingga ancaman krisis lahan pembuangan pada 2029 dapat diantisipasi sejak dini demi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat luas.
Baca Juga : Menteri LH Tinjau PSEL Palembang, Proyeksikan Kelola 1.000 Ton Sampah per Hari
Sementara itu, Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike mengatakan bahwa persoalan sampah juga menjadi tantangan besar di Jakarta, meskipun didukung anggaran yang sangat besar.
Baca Juga : Tragedi Longsor Sampah Bantargebang, Eddy Soeparno Kritik Lambannya Penanganan Krisis Nasional
“Dengan anggaran yang besar pun, persoalan sampah masih menjadi darurat. Bahkan kejadian longsor di tempat pengolahan sampah yang menelan korban jiwa menjadi perhatian serius bagi kami,” ujarnya.
Ia menilai, pengelolaan sampah membutuhkan pendekatan komprehensif, mulai dari pengurangan di hulu hingga pengolahan di hilir. Namun, tantangan terbesar tetap pada perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah.
“Yang paling sulit itu memilah sampah dari sumbernya. Ini yang terus kami dorong, termasuk melalui regulasi dan sosialisasi,” katanya.
(Emn/Nusantaraterkini.co)
