Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Dari Simpul ke Simpul: Kisah Ibel dan Ruang Kecil Bernama Rumah Kito

Reporter :  Junaidin Zai
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Muhammad Ibel Nasution, saat merajut tali Paracord. (Foto: Zai/Nusantaraterkini.co)

Nusantaraterkini.co, MEDAN - Di sebuah kedai kopi mungil di Gang Rambung, Jalan Halat, Kota Medan, malam turun perlahan. Cahaya lampu temaram menyentuh permukaan meja kayu yang mengilap oleh usia. Asap kopi robusta naik perlahan dari cangkir-cangkir cantik. Di pojok ruangan, mesin espresso sesekali menggeram pelan, seolah tak mau mengganggu kesunyian yang dijaga.

Di pojok itu, Muhammad Ibel Nasution duduk membungkuk. Kedua tangannya menari pelan, telaten menyusun tali-tali Paracord berwarna mencolok. Usianya 42 tahun, wajahnya tenang, matanya dalam. Seperti danau yang lama menyimpan riak cerita.

Baca Juga : Sultan Deli Tuanku Aji Penikmat Musik Rock-Metal dari Siaran Radio, Favoritkan Slipknot dan Metallica

“Sudah dua puluh empat tahun saya main simpul,” katanya nyaris berbisik, tanpa melepaskan fokus dari jemarinya. “Dulu, hidup di jalan. Naik gunung. Tidur di mana bisa. Hidup dari saku ke saku.”

Baca Juga : Tajuddin Idris Pemimpin Visioner yang Mengubah Wajah BPMP Sumut

Tali-tali yang di tangan para pendaki biasa tergantung di pinggang, di tangan Ibel menjelma gelang, strap jam, atau gantungan kunci. Dibuat satu per satu, tanpa mesin, tanpa studio, tanpa promosi. Hanya dengan ketekunan yang ia pelihara seperti doa.

Setiap bulan, tak kurang dari seratus simpul ia lahirkan. Tapi bukan angka yang membuat karya Ibel menonjol, melainkan ruh yang merasuk ke tiap simpulnya.

Baca Juga : Setelah Bercinta, Para Pria Perlu Perhatikan Hal Ini

“Kalau hati sedang kacau, tali ini bisa baca, simpul pun ikut kacau,” katanya saat ditemui Nusantaraterkini.co, belum lama ini. 

Baca Juga : Target Rp220 Ribu Sehari, Begini Perjuangan Rizal Bertahan sebagai Driver Gojek Medan

Ruang yang Merawat Proses

Tak jauh dari tempat duduk Ibel, terdapat papan kecil bertuliskan Rumah Kito. Sebuah kedai kopi rumahan yang pelan-pelan menjelma menjadi ruang berkumpul, berkarya, dan berbagi.

Baca Juga : Daftar Top 10 Paling Kaya Raya di Indonesia Awal Tahun 2025, Salah Satunya Ada Konglomerat Terkaya Di Dunia

Di sinilah Ibel menemukan tempat berpijak. Meja kayu yang ia tempati setiap malam berubah menjadi etalase sekaligus kelas kecil. Gelang-gelang ditata seadanya, di antara gitar pengunjung dan obrolan pengantar kopi. Tapi justru dari kesederhanaan itu, ruang hidup tercipta.

Baca Juga : Manfaat Pelukan Orangtua Terhadap Anak, Ternyata Bisa Buat Perspektif Baru

Ardiansyah Tanjung, pemilik Rumah Kito, tak pernah bermaksud membangun bisnis besar. Ia hanya ingin menyediakan ruang sekecil apa pun bagi teman-teman yang hidup dari kerja mandiri dan kesenian.

“Karya yang lahir dari kesungguhan itu selalu punya nyawa,” ujar Tanjung sapaan akrabnya. “Dan kami ingin menjaga agar ruang ini tetap bernyawa."

Tanjung memberi ruang bukan sekadar untuk memamerkan karya, tapi untuk membangun ekosistem. Tempat percakapan ringan bisa berubah jadi kolaborasi. Dari simpul ke simpul, dari ide ke ide.

Ekosistem tanpa Panggung Besar

Tidak ada baliho. Tidak ada spanduk. Tidak ada e-commerce berbayar. Tapi setiap malam, meja kecil di pojok kedai itu berubah jadi titik temu. Mahasiswa, remaja yang sedang mencari arah hidup, pelanggan setia, semua menyempatkan mampir. Kadang hanya bertanya. Kadang belajar langsung. Kadang datang hanya untuk melihat bagaimana tangan Ibel bekerja dalam diam.

“Bukan sekadar soal jualan. Ini soal membangun ekosistem. Membentuk solidaritas dari hal kecil," kata Alwan seorang mahasiswa yang aktif berorganisasi.

Kini, Rumah Kito dan Ibel adalah simpul itu sendiri pengikat yang tidak tampak tapi terasa. Seutas tali yang menyambungkan satu orang ke orang lain, satu pengalaman ke pengalaman lain.

Malam terus berjalan di Gang Rambung. Kopi mulai habis. Obrolan pelan-pelan menurun. Tapi di sudut kedai, Ibel masih membungkuk. Tangannya tak henti bekerja. Bukan hanya merajut tali, tapi merajut hidup pelan-pelan, sabar, dan sungguh-sungguh.

(cw7/nusantaraterkini.co)