Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Demi Dekat Keluarga, Pekerja di Medan Rela Bertahan dengan Gaji di Bawah Standar

Editor :  Fadli Tara
Reporter :  Kriswando Sinaga
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!

Nusantaraterkini.coMEDAN – Menjadi perantau di Kota Medan ternyata menyimpan tantangan tersendiri, terutama bagi mereka yang bekerja di sektor jasa seperti restoran.

Meski upah yang diterima dinilai tidak sebanding dengan biaya hidup yang terus merangkak naik, para pekerja memilih bertahan dengan strategi "pangkas pengeluaran".

Baca Juga : Kinerja Ekonomi di Atas Kertas Membaik, Tapi Kenapa Masyarakat Masih Berkeluh Kesah?

Dalam sebuah perbincangan di sela aktivitas warga, Pendi, seorang pekerja di Medan mengungkapkan realita pahit rekan sejawatnya. Menurutnya, banyak pekerja restoran yang hanya mengantongi upah berkisar antara Rp1,6 juta hingga Rp1,8 juta per bulan.

Baca Juga : Jelang Tutup Permanen, Karyawan Altic Houseware Medan Dipastikan Terima Pesangon Penuh

“Cerita kawan-kawan memang nggak sesuai (antara gaji dan biaya hidup). Tapi mereka tetap bersyukur daripada menganggur,” ujar Pendi saat diwawancarai pada Rabu (13/5/2026).

Untuk menyiasati gaji yang minim, para pekerja harus memutar otak dalam mengelola pengeluaran harian. Strategi bertahan hidup yang umum dilakukan adalah dengan mengatur frekuensi makan dan memilih menu yang sangat ekonomis.

Baca Juga : Cegah Kemiskinan Baru di Sumut Melalui UCJ BPJS Ketenagakerjaan

“Makannya diatur, mungkin makan Indomie atau makan sehari dua kali saja. Lauknya juga yang murah seperti telur. Uang kos dan uang makan benar-benar dipangkas,” tambahnya.

Baca Juga : Wamenaker: Serikat Pekerja PLN Harus Jadi Mitra Strategis Manajemen

Menariknya, meski kota lain seperti Batam menawarkan upah yang lebih menggiurkan, banyak pekerja tetap memilih Medan. Faktor kedekatan dengan kampung halaman menjadi alasan utama guna menekan biaya transportasi saat ingin pulang ke rumah.

Selain itu, adanya miskonsepsi mengenai tingginya biaya hidup di Batam turut memengaruhi keputusan mereka.

Baca Juga : Dispora Sumut Rancang Sport Center Jadi Kawasan Kota Baru Berbasis Bisnis

“Di Batam sebenarnya yang mahal itu gaya hidupnya, bukan biaya hidup dasarnya. Tapi orang banyak yang belum tahu bedanya,” jelas Pendi.

Baca Juga : Polda Sumsel Sita 11.443 Ekstasi dan 1,3 Kg Sabu Siap Edar di Palembang Lewat Ekspedisi Resmi

Kendati demikian, Pendi menekankan bahwa pekerjaan dengan upah rendah ini idealnya hanya menjadi batu loncatan. Menurutnya, bertahan selama bertahun-tahun dengan gaji di bawah standar akan sangat menyulitkan masa depan pekerja di tengah ekonomi yang semakin kompetitif.

(cw1/nusantaraterkini.co)