Nusantaraterkini.co, JAKARTA - Geothermal merupakan sumber daya alam yang memiliki potensi besar dalam energi terbarukan. Namun, Geothermal juga memiliki dampak bagi kehidupan masyarakat
Pemerintah melalui proyek strategis nasional (PSN) tengah mendorong pemanfaatan dari Geothermal atau energi panas bumi.
Namun, di balik ambisi tersebut, ada kekhawatiran dari masyarakat setempat yang merasa terancam. Apa yang terjadi ketika proyek besar ini bertabrakan dengan kehidupan warga dan kelestarian alam?
Potensi Geothermal di Indonesia
Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik, yang menjadikannya sebagai negara dengan potensi energi panas bumi terbesar di dunia.
Dengan sumber energi geothermal yang melimpah, Indonesia berpeluang menjadi salah satu pemimpin global dalam penggunaan energi terbarukan.
Pemerintah pun, dilansir dari Youtube milik Whatdoc pada Selasa (31/12/2024) berkomitmen untuk mengembangkan geothermal sebagai alternatif energi yang ramah lingkungan, mengurangi ketergantungan pada energi fosil, serta menghadapi perubahan iklim.
Proyek Geothermal di Gunung Gede Pangrango
Namun, di balik harapan besar itu, proyek geothermal akan dilakukan oleh PT Daya Mas Geopatra Pangrango (PT. DMGP) setelah mendapat surat penugasan survei pendahuluan dan ekplorasi (PSPE) oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat, menimbulkan kontroversi.
Gunung Gede Pangrango adalah kawasan yang kaya akan biodiversitas, dengan banyak spesies langka, termasuk elang Jawa dan lutung.
Lebih dari itu, gunung ini juga memiliki nilai kultural yang sangat penting bagi masyarakat sekitar.
Warga sekitar menanggapi rencana pembangunan dengan kekhawatiran.
Mereka takut proyek ini akan merusak alam, mencemari sumber air, dan menghancurkan tanah pertanian yang telah mereka andalkan untuk bertahan hidup.
Dalam beberapa kasus, seperti yang terjadi di Dieng, kebocoran gas beracun dari proyek geothermal sudah menimbulkan korban jiwa.
“Saya sebagai anak petani, tidak setuju dengan adanya pembangunan Geothermal di sini,” kata Risma warga Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur.
Dampak yang Dirasakan Warga
nusantaraterkini.co/uploads/images/202412/image_870x_6773bd378dadb.jpg" alt="">
Salah satu alasan penolakan yang kuat datang dari para petani yang hidup dari hasil alam sekitar Gunung Gede Pangrango. Mereka menggantungkan hidup pada pertanian yang subur dan sumber air yang bersih.
Jika proyek geothermal ini terus berjalan, mereka khawatir akan kehilangan mata pencaharian mereka, karena kerusakan lingkungan yang ditimbulkan.
Dampak yang sudah terjadi di beberapa lokasi, seperti Dieng, menunjukkan bahaya yang dapat timbul. Kebocoran gas beracun, kerusakan tanah, dan tercemarnya mata air adalah beberapa isu yang menjadi kekhawatiran.
Gas beracun yang bocor dapat mengancam keselamatan warga, seperti yang telah terjadi di Dieng, di mana satu pekerja meninggal dan beberapa lainnya mengalami keracunan gas.
Selain itu, aliran air yang tercemar dapat menghancurkan ekosistem lokal dan merusak tanah pertanian yang bergantung pada kualitas air yang baik.
Penolakan dan Harapan Warga
Warga sekitar Gunung Gede Pangrango menolak proyek ini dengan alasan yang jelas: mereka ingin menjaga kelestarian alam untuk generasi mendatang.
Seperti yang disampaikan oleh Yanti warga Cipendawa, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur proyek geothermal ini tidak hanya mengancam kehidupan mereka, tetapi juga ancaman terhadap warisan budaya dan alam yang sudah ada sejak nenek moyang.
Mereka berharap pemerintah dapat mendengarkan suara mereka dan memikirkan dampak jangka panjang dari proyek-proyek besar ini.
Banyak dari mereka yang merasa tidak pernah dilibatkan dalam proses perencanaan dan sosialisasi mengenai proyek geothermal ini.
“Kami meminta agar pembangunan dilakukan dengan melibatkan masyarakat, serta mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan dan sosial,” harapnya.
Energi Terbarukan vs. Keberlanjutan Sosial

Transisi energi ke sumber yang lebih bersih seperti geothermal memang penting dalam mengurangi dampak buruk terhadap iklim.
Namun, transisi ini harus dilakukan dengan hati-hati. Energi terbarukan seperti geothermal, meski ramah lingkungan, dapat menimbulkan masalah jika tidak dikelola dengan bijak, terutama jika melibatkan eksploitasi alam yang berlebihan.
Penting untuk diingat bahwa pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya mempertimbangkan keuntungan ekonomi jangka pendek, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan jangka panjang.
Baca Juga: Tanggul Sungai Roboh, 52 Orang Mengungsi: 2 Rumah Rusak Berat
Jika pembangunan tidak memperhatikan hak-hak masyarakat lokal dan kelestarian alam, maka tujuan pembangunan itu sendiri bisa berbalik menjadi bencana.
Solusi untuk Masa Depan
Sebagai solusi, penting untuk melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan dan pelaksanaan proyek-proyek energi. Pemerintah perlu memastikan bahwa segala bentuk pembangunan, termasuk proyek geothermal, dilakukan dengan transparansi dan partisipasi aktif dari masyarakat lokal.
Dengan pendekatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, kita dapat memastikan bahwa energi terbarukan dapat bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa mengorbankan kehidupan mereka.
Geothermal memang menawarkan solusi energi yang ramah lingkungan, namun untuk mewujudkannya dengan adil, kita harus mempertimbangkan keseimbangan antara pembangunan energi dan keberlanjutan sosial-ekologis.
Pembangunan untuk rakyat harus diprioritaskan, dengan menjaga alam dan sumber daya yang ada, agar generasi mendatang juga dapat menikmati manfaat dari bumi yang lestari.
(Akb/nusantaraterkini.co)
