Nusantaraterkini.co, PALEMBANG — Kebakaran hebat yang melanda kawasan 1 Ilir pada, Minggu (10/5/2026) sekitar pukul 19.30 WIB hanya menyisakan puing-puing bangunan setelah delapan rumah dan satu gudang hangus dilalap api dalam waktu singkat.
Salah satu warga yang rumah orang tuanya ludes terbakar mengungkapkan jika seluruh bangunan kayu tersebut habis tidak bersisa hanya dalam waktu satu setengah jam.
Hal ini menyisakan duka mendalam bagi para sejumlah keluarga yang kini kehilangan tempat tinggalnya yang rata-rata memang merupakan rumah panggung.
Baca Juga : Bus ALS Hantam Mobil Tangki di Jalinsum, 16 Orang Tewas Terbakar
“Rumah ini terbakar dan rumah ini juga masih dalam keadaan terbakar, cuma sudah habis. Satu jam setengah lah kurang lebih semuanya ini habis,” ujar salah seorang warga sekitar, Enzian Henry, saat dibincangi langsung di lokasi kebakaran, Senin (11/5/2026).
Enzian menceritakan jika saat kejadian dirinya sedang berada di luar rumah untuk beribadah dan baru mengetahui musibah tersebut setelah dihubungi anaknya yang bekerja di luar negeri.
“Ditelepon anak saya yang bekerja di Malaysia. Katanya rumah nenek itu terbakar. Apa iya ? Saya bilang, kamu yang di Malaysia tahu, aku yang di sini tidak tahu. Setelah diberi tahu anak lain, ya memang benar ada lihat di hp,” ungkapnya.
Baca Juga : Gudang di Martubung Terbakar, Rumah Warga Turut Hangus
Setibanya di lokasi, ia hanya bisa menatap sisa-sisa bangunan yang sudah menjadi arang, padahal rumah tersebut dihuni oleh ibu lansia berusia 85 tahun dan keluarganya yang sempat berhasil diselamatkan sebelum api membesar.
“Ini kontrakan, tapi ada orang baik disuruh tinggal saja. Jadi dibilang ini ngontrak, jangan dibilang ini numpang saja. Karena banyak keluarga, jadi insya Allah kita ini dianggap ngontrak, jadi tidak bermasalah. Semalam ibu saya yang sudah lanjut usia 85 tahun, sama ada yang lumpuh.,” katanya.
Enzian menjelaskan bahwa kondisi kabel listrik yang memiliki daya tahan rendah namun dipasangi lampu berukuran besar diduga menjadi pemicu kebakaran pada bangunan non-permanen tersebut.
Baca Juga : Satu Korban Laka Maut Bus ALS Terancam Amputasi Jari
Selain faktor instalasi listrik, api cepat membesar karena adanya aktivitas usaha katering di bagian bawah rumah yang menggunakan tabung gas dan kompor berukuran besar.
“Maklum lah, bukannya rumah mewah. Ada yang sambungan kabelnya, mungkin daya tahan kabel ini rendah tapi pasang lampunya besar. Di bawahnya ini ada yang masak nasi, ada tabung gas. Ini kan katering, masak untuk orang. Kompor besar itu yang mata seribu, jadi nasinya banyak bisa 20 kilo. Ya begitulah, listrik yang terbakar dan ada gas di bawahnya,” jelasnya.
Kini, para korban yang terdampak sangat mengharapkan uluran tangan dari pemerintah daerah untuk membantu memulihkan kondisi mereka pascamusibah.
Baca Juga : Empat Hari Pencarian, Siswi SD yang Hanyut di Sungai Musi Ditemukan Meninggal
Mengingat sebagian besar bangunan yang terbakar adalah rumah panggung berbahan kayu, tidak banyak harta benda yang bisa diselamatkan dari amukan si jago merah yang diduga dipicu oleh korsleting listrik tersebut.
“Ya, karena ini dadakan, mohonlah bantuan kepada pemerintah. Karena semua ini terdampak dalam hitungan jam, kami ini tadinya ada rumah, sekarang tidak punya rumah. Itulah mohon bantuan kepada pemerintah, intinya minta dibantu,” ucap pria yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan tersebut.
Baca Juga : Pemprov Sumsel Tanggung Biaya Pemulangan Korban Bus ALS beserta Keluarga
(Tia/Nusantaraterkini.co)
