Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Harga Bitcoin Kembali Menyusut Bertengger Dilevel US$ 99.965 Sempat Mencetak Rekor Baru

Editor :  Team
Reporter :  wiwin
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Potensi kenaikan harga bitcoin akan didorong oleh sejumlah faktor, termasuk ketertarikan institusional yang semakin besar dan kemungkinan besar regulasi yang lebih jelas di berbagai negara.

Nusantaraterekini.co, Jakarta - Harga Bitcoin (BTC), aset kripto terbesar di dunia, makin mahal. Bahkan, sempat mencetak rekor baru dengan harga melampaui US$ 100.000 pada Kamis (5/12).

BACA: Harga Emas Spot Naik 0,2% Dilevel US$ 2.636,31 Per Ons Dipicu Laporan Pertumbuhan Pekerjaan AS

Namun setelah itu harga Bitcoin kembali menyusut. Pada perdagangan Sabtu (6/12), harga Bitcoin bertengger dilevel US$ 99.965.

Baca Juga : Harga Bitcoin Naik 4,12% Level US$ 96.090,91 Berpotensi Terus Naik Hingga ke Level US$100.000

Trader Tokocrypto Fyqieh Fachrur melihat, tren harga BTC jangka pendek akan bergantung pada data arus ETF BTC-spot AS dan siapa yang dinominasikan Donald Trump sebagai Ketua Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC).

BACA: Harga Minyak Mentah Turun Lebih dari 1% Terseret Surplus Pasokan Minyak Akibat Permintaan yang Lemah

Nominasi yang pro-kripto dapat membuka jalan bagi BTC untuk menjadi aset cadangan strategis AS.

Baca Juga : Harga Bitcoin Terjatuh 2,18% Bersandar di Level US$113.329 Per Koin Setelah Mencetak Rekor Tertinggi

Namun, investor harus memantau aktivitas Mt. Gox dan pemerintah AS. BTC dapat menghadapi tekanan jual lebih lanjut jika terjadi pergerakan yang cukup besar.

Pada hari Kamis (5/12), Mt. Gox memindahkan US$2,43 miliar dalam bentuk BTC ke dompet baru, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan kelebihan pasokan.

BACA: Indeks Wall Street Ditutup Bervariasi Ditopang Data Pekerjaan Amerika Serikat

Baca Juga : New ATH, Harga Bitcoin Cetak Rekor Tertinggi Rp1,9 Miliar

Mt.Gox saat ini memegang 39.878 BTC, setara dengan US$ 3,92 miliar, untuk dikembalikan kepada investor. Mt. Gox kolaps pada Februari 2014, saat BTC kurang dari US$600.

‘’Komunitas kripto mengharapkan kreditor untuk menguangkan keuntungan besar setelah dibayarkan dalam BTC. Transfer dalam jumlah besar tersebut kemungkinan berkontribusi terhadap penurunan BTC dari US$ 100.000 di samping aksi ambil untung dari para investor jangka pendek,” ungkap Fyiqeh dalam siaran pers.

BACA: IHSG Menguat 3,77% Dalam Sepekan Terkerek Rilis Sejumlah Data Ekonomi Amerika Serikat

Di sisi lain, Bitcoin telah menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa sepanjang tahun 2024 mencapai 131% year to date (ytd). Menurut berbagai analis, Bitcoin berpotensi untuk melanjutkan tren kenaikan harga dalam jangka panjang, meskipun harga saat ini masih mengalami fluktuasi.

Beberapa perkiraan menunjukkan bahwa harga Bitcoin bisa mencapai US$ 200.000 pada akhir 2025, sementara ada yang lebih optimis memproyeksikan harga BTC akan melampaui US$1 juta pada tahun 2030.

Fyqieh menuturkan, salah satu alasan di balik proyeksi kenaikan ini adalah adopsi Bitcoin yang semakin meluas, baik di kalangan investor institusional maupun regulasi yang mendukung ekosistem kripto.

Ketika Bitcoin menembus level harga US$ 100.000, ini menunjukkan bahwa Bitcoin telah mencapai tahap penting dalam perjalanan menjadi aset yang lebih diterima secara luas.

‘’Dengan meningkatnya adopsi institusional, Bitcoin semakin dianggap sebagai aset yang sah dan stabil. Meskipun ada fluktuasi harga dalam jangka pendek, tren jangka panjang Bitcoin tetap optimis,’’ terang Fyqieh.

FOMO dan Strategi Investasi Bitcoin

Dengan harga Bitcoin yang telah melampaui US$ 100.000, banyak investor yang kini merasa khawatir ketinggalan momentum (FOMO). Bitcoin yang menyentuh level tertinggi telah menimbulkan pertanyaan, apakah artinya sudah terlambat untuk mulai berinvestasi.

Beberapa menyarankan untuk membeli Bitcoin saat harga sedang mengalami penurunan atau stagnasi, sementara yang lain berpendapat bahwa meskipun harga saat ini tinggi, Bitcoin tetap menawarkan potensi keuntungan besar dalam jangka panjang.

Fyqieh berujar, memang banyak yang merasa terintimidasi melihat harga yang sudah tinggi, tapi bagi investor jangka panjang, Bitcoin masih memberikan peluang. Terkait harga yang sudah terlalu tinggi itu tergantung  pandangan investor terhadap perkembangan masa depan kripto.

‘’Jika investor percaya pada teknologi blockchain dan potensi adopsi kripto global, saat ini mungkin masih menjadi waktu yang baik untuk berinvestasi,’’ tutur Fyqieh.

Fyqieh memandang, meskipun bitcoin mengalami koreksi harga setelah mencapai level US$ 100.000, aset digital ini masih menunjukkan potensi untuk terus tumbuh.

Saat ini, harga Bitcoin bergerak sekitar US$ 97.393, dan beberapa analis memperkirakan harga akan melanjutkan kenaikan menuju US$120.000 pada kuartal pertama tahun 2025.

Potensi kenaikan harga bitcoin akan didorong oleh sejumlah faktor, termasuk ketertarikan institusional yang semakin besar dan kemungkinan besar regulasi yang lebih jelas di berbagai negara.

Oleh karena itu, bagi investor yang mempertimbangkan untuk membeli Bitcoin, penting untuk memiliki strategi jangka panjang dan menghindari keputusan impulsif berdasarkan pergerakan harga jangka pendek.

‘’Bitcoin, meskipun volatile, tetap menjadi aset yang menarik bagi mereka yang ingin berinvestasi dalam teknologi blockchain dan melihat kripto sebagai bagian dari portofolio investasi yang lebih besar,” imbuh Fyqieh.