Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Harga Minyak Mentah Terkoreksi Terkerek Perang Tarif Antara AS dan Tiongkok

Editor :  Team
Reporter :  wiwin
WhatsApp LogoTemukan Nusantaraterkini.co di WhatsApp!!
Harga minyak melanjutkan koreksi di tengah tanda-tanda bahwa perang dagang akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Laporan industri tentang kenaikan persediaan minyak AS turut mendorong penurunan harga minyak.

Nusantaraterkini.co, New York - Pada perdagangan Rabu (30/4/2025) pagi. Pukul 07.22 WIB harga minyak terkoreksi di pasar spot.

Diketahui, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni 2025 di New York Mercantile Exchange ada di US$ 60,32 per barel, turun 0,17% dari sehari sebelumnya yang ada di US$ 60,42 per barel.

BACA: Rupiah Spot Menguat 0,26% Bersandar di Level Rp 16.718 Per Dolar AS Pagi Ini

Baca Juga : Krisis Energi Global, DPR Soroti Keberhasilan Pemerintah Tahan Harga BBM

Harga minyak melanjutkan koreksi di tengah tanda-tanda bahwa perang dagang akan menghambat pertumbuhan ekonomi. 

Laporan industri tentang kenaikan persediaan minyak AS turut mendorong penurunan harga minyak.

Harga minyak mentah WTI turun mendekati US$ 60 per barel pada hari Rabu (30/4), turun untuk sesi ketiga berturut-turut dan bertahan mendekati level terendah dalam dua minggu.

Baca Juga : Selat Hormuz Dibuka Kembali, Harga Minyak Mentah Dunia Langsung Anjlok 10 Persen

BACA: Harga Minyak Mentah Tergelincir 0,16% Terdampar di Level US$ 61,95 Per Barel Dibayangi Ketegangan Ekonomi AS

Ini karena ketidakpastian atas perubahan kebijakan global yang terus membebani prospek permintaan minyak. 

Harga minyak WTI telah mengalami penurunan bulanan lebih dari 15%. Ini menjadi penurunan tertajam sejak November 2021. 

Baca Juga : Ekspor Sumut Relatif Aman di Tengah Perang Dagang AS vs China

Harga minyak mentah Brent juga turun ke level US$ 63 per barel pada hari Rabu, turun untuk sesi ketiga berturut-turut dan mendekati level terendah dalam dua minggu. 

Seperti dikutip Tradingeconomics, Rabu (30/4), pergerakan tarif AS yang tidak menentu telah meningkatkan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global, terutama di tengah perang tarif yang sedang berlangsung antara AS dan Tiongkok. 

Perang tarif ini memicu perang dagang antara dua konsumen minyak terbesar di dunia. 

Baca Juga : Dampak Perang Tarif, Emas Turut Jadi Penyumbang Inflasi Sumut

Sentimen pasar semakin menurun karena kepercayaan konsumen AS turun tajam, yang menandakan meningkatnya tekanan ekonomi.

Sementara OPEC+ mungkin mempertimbangkan untuk mempercepat peningkatan produksi yang direncanakan pada pertemuannya tanggal 5 Mei mendatang. 

Laporan perediaan minyak mentah dari American Petroleum Institute (API) juga mengungkapkan bahwa persediaan minyak mentah AS naik sebesar 3,76 juta barel minggu lalu. Itu jauh di atas perkiraan kenaikan 390.000 barel.

Baca Juga : Iran Ajukan Draf Damai ke AS: Tuntut Cabut Blokade Laut dan Sanksi Minyak dalam 30 Hari

(wiwin/nusantaraterkini.co)